28 Juni 2022


Review Scarlett Glowtening Serum, Serum Terbaik 2022 untuk Bumil dan Busui  ―  Berjumpa lagi dengan tulisan bunda-bunda yang sekarang ini sudah punya anak dua...duuuu waaaa. Ya ampun, bener-bener ya warna warni hidupku semakin terang benderang cemlorot setelah sebelumnya bergelut sama toddler, sekarang tambah lagi ada bayi kecil mungil yang melengkapi hari-hariku. Saking menikmati rutinitas bersama anak-anak, jujur aja aku mulai makin sering ngeskip rutinitas skincare-an. Yaaa, selain karena serum Scarlett yang kemarin udah habis, ditambah masa-masa penyesuaian lagi tentang ritme waktu sama bocil, akhirnya jadi nggak sempet buat repurchase.

Sekarang si bontot udah menginjak usia 3 bulan. Ritme si kecil udah mulai bisa kebaca, Alhamdulillah. Nggak terlalu yang menguras energi buat begadangan atau kebangun tiba-tiba. Aku akhir-akhir ini jadi mulai keinget buat ngaca dan mencermati kondisi kulit wajahku yang ternyata hmm, kok berasa mulai kusem dan kering yaa. Berhubung serum sebelumnya udah habis, jadi pengen juga cobain varian serum lain dari Scarlett Whitening. Terakhir aku pakai seri yang Brightly Ever After Serum dan karena terakhir kemarin aku merasa cocok, jadinya kali ini tertarik sama serum yang punya manfaat untuk bikin wajah lebih glowing tapi yang nggak bikin pengeluaran membengkak juga. Glowing on the low budget gitu deh ceritanya, hahaha.

Scarlett Glowtening Serum jadi jawaban pencarian serum baruku. Klaimnya yang kubaca di website resminya menggoda sih. Udah gitu kita semua juga tau kalau serum-serumnya Scarlett itu harganya affordable banget dengan kualitas yang oke juga. Fix deh, ini jadi serum yang bakalan kucobain lagi setelah vacuum beberapa saat dari dunia per-skincare-an.


Scarlett Glowtening Serum menggunakan wadah botol kaca dengan pipet seperti layaknya produk serum lainnya. Dengan harga Rp 75,000 kita udah bisa dapetin serum ini sebanyak 15ml. Buatku sendiri sih, udah cukup buat dipakai sebulan lebih. Packaging produknya safety banget ya, sama kayak produk-produk Scarlett yang lain. Kardusnya dibungkus menggunakan plastik press dan di bagian dalamnya masih ada plastik mika lagi untuk menempatkan botol serumnya. Packaging seperti ini tentu aja bikin kita nggak was-was kalo beli online, karena produknya terjaga banget.

Segala informasi penting mengenai produk serum ini juga ditampilkan dengan jelas. Yang aku suka, informasi expired date diletakkan di botol serumnya (bukan di kardus). Suka sebel sih ya kalo exp date ditaruh di kardus tuh, kalo pas udah kebuang kardusnya kan jadinya zonk. Mengenai informasi kandungan bahan secara lengkap bisa kita lihat di kardusnya, tapi kalau untuk key ingredientsnya ada  di botol serumnya.

Tidak Mengandung Merkuri & Hydroquinone

Berhubung saat ini aku masih menyandang status sebagai ibu menyusui alias busui, aku perlu memastikan dulu produk skincare yang mau kupake aman atau nggak buat busui. Nah, Scarlett Glowtening Serum ini selain udah terdaftar BPOM, dipastikan nggak mengandung merkuri dan hydroquinone, jadi tentunya aman buatku dan kalian yang punya kulit sensitif apalagi yang punya alergi. Dilansir dari situs alodokter, sebenernya kandungan hydroquinone punya juga manfaat untuk mencerahkan bagian kulit yang warnanya lebih gelap. Yang dimaksud gelap di sini adalah kulit gelap yang diakibatkan karena adanya hiperpigmentasi. Namun sayangnya, penggunaan kandungan ini jauh lebih tricky banget, harus hati-hati, dan harus disertai dengan resep dokter. 

Penggunaan bahan hydroquinone nggak boleh sembarangan karena rentan menyebabkan alergi dan bisa membuat kulit kita jadi lebih sensitif lagi terhadap paparan sinar matahari. Kita kayak harus mastiin dulu gitu lho apakah kulit kita alergi atau enggak terhadap bahan ini, jadi ya nggak bisa yang "segampang" itu menggunakan produk berbahan hydroquinone. Selain itu, kandungan hydroquinone juga tidak disarankan untuk digunakan oleh ibu hamil. 

Scarlett tentu aja memperhatikan kualitas dan manfaat di setiap produknya, maka mengingat resiko kegawatan yang bisa terjadi, bahan tersebut tidak digunakan dalam produk serum glowtening ini. Scarlett Glowtening Serum menggunakan Tranexamide Acid untuk memberikan hasil meredakan peradangan pada kulit yang terpapar sinar UV dan meratakan warna kulit yang tentu aja jauh lebih aman. Maka dari itu, produk serum glowtening ini aman buat bumil maupun busui. Untuk lebih amannya lagi, bumil tetap disarankan menggunakan serum ini setelah usia kehamilan di atas 3 bulan yaa. Atau bisa konsultasi dulu dengan dokter kandungan kalian.


Cara Aku Menggunakan Scarlett Glowtening Serum

Serum ini teksturnya sedikit agak lebih kental menurutku jika dibandingkan dengan serum varian Brightly Ever After Serum. Ketika diaplikasikan ke wajahku memang jadi berasa banget kalo lagi pake sesuatu di kulit, jadi bukan yang light hilang gitu lho rasanya tuh. Buatku, butuh waktu agak lama juga untuk memastikan serum ini bener-bener menyerap ke wajah, sekitar 8-10 menit. Aku udah cobain pakai serum ini di pagi hari dan malam hari secara rutin. 

Di pagi hari, serum ini kugunakan sebelum menggunakan sunscreen. Aku merasa kulitku udah cukup lembap setelah menggunakan serum ini di pagi hari, sehingga aku nggak lagi pakein pelembap, langsung timpa sunscreen aja gitu, udah. Ketika setelahnya kutimpa lagi dengan make-up (powder foundation, blush on, dll) beberapa jam kemudian sama sekali nggak bikin makeupku bubar meski udah 8 jam dan keringetan. Malahan, berasa nempel anteng gitu.

Serum ini punya wangi yang sopan banget, nggak menyengat, malahan cenderung menenangkan wanginya. Sejujurnya, aku jauh lebih suka pakai serum ini untuk ritual di malam hari, karena serum ini butuh waktu beberapa menit untuk bisa meresap, nah kalau di malam hari nggak perlu berasa buru-buru gitu karena bisa langsung ditinggal tidur istirahat aja kan 😁 Kalo pas pagi hari kan masih harus ada kewajiban lain untuk nyiapin ini-itu. Penggunaan serum ini enak banget apalagi kalau dibarengi dengan krim malamnya Scarlett. Pas bangun pagi tuh berasa kulit muka jadi lebih moist tanpa rasa klenyit. 

Tahapan yang kulakukan selama menggunakan serum ini nggak jauh berbeda seperti sebelum-sebelumnya. Setelah cuci muka bersih, aplikasikan Scarlett Glowtening Serum, tunggu sampai meresap, baru setelah itu pakai krim malam dari Scarlett. By the way, serum ini bisa banget juga kok kalo mau dilayer sama produk serum lainnya. Untuk mempercepat proses penyerapannya, biasanya aku sambil ngadep kipas angin sewaktu pengaplikasian.

Apakah Klaim dari Scarlett Glowtening Serum Berhasil Bekerja di Kulit Wajahku?

Dari 16,5% bahan aktif yang ada di serum ini, Scarlett Glowtening Serum diklaim dapat memberikan beberapa improvement positive untuk wajah, diantaranya sebagai berikut:
✧  Membantu mencerahkan kulit wajah
✧  Memberikan efek glowing pada kulit 
✧  Membantu memudarkan bekas jerawat  
✧  Membantu menutrisi kulit agar lebih sehat  
✧  Menyamarkan garis halus dan flek hitam pada wajah 
✧  Menenangkan dan memperbaiki skin barrier

Setelah pemakaian secara rutin selama dua minggu, klaimnya yang dibilang memberikan efek glowing bisa kurasakan langsung sewaktu mengaplikasikan produk serum ini. Memang bener bisa jadi tampak terlihat lebih glowing. Meskipun ada sensasi berasa "pakai sesuatu" di wajah, serum ini berhasil menghidrasi kulit wajahku dengan sangat baik. Apalagi kalau pas dipakai malam hari barengan sama Brightly Ever After Cream Night, waktu pagi hari setelahnya tuh kulit wajahku berasa banget lembapnya. Aku merasa tekstur kulitku sedikit berangsur membaik. Sebelumnya kayak berasa kalo diraba tuh kerasa agak kasar gitu, tapi setelah rutin menggunakan serum ini dan dibarengi dengan penggunaan krim malamnya Scarlett, jadi nggak berasa kasar lagi kulit wajahku kalo diraba.


Selama 2 minggu pemakaian, aku belum merasa kulit wajahku menjadi lebih cerah, masih sama aja sih. Cuman lebih ke nggak sekusam sebelumnya. Selain itu, flek hitam di wajahku juga masih tampak, belum kelihatan berkurang. Wajar sih ya karena baru 2 minggu aja nih pakenya. Tapi untuk bekas jerawat baru yang muncul belakangan sih kelihatan samar-samar sedikit memudar. Mungkin jika dikombinasikan dengan produk serum lain, misal Brightly Ever After Serum, efek cerah dan memudarkan flek bisa lebih nampol kali yaa.

Cara Cek Keaslian Produk Scarlett Whitening Original

Yang aku suka banget dari brand Scarlett ini adalah produknya gampang dicari di mana-mana. Di Jogja sendiri sih toko-toko kosmetik udah banyak banget yang menyediakan produk Scarlett. Kalau kalian mager buat belanja offline, teman-teman bisa juga kok dengan mudah belanja di marketplace kesayangan kalian. Cari aja yang bisa gratis ongkir atau ngasih cashback banyak, kan lumayan, hehe. Aku rangkum linknya di sini yah, langsung diceklik ajah!


Nah, selain di official online store, banyak banget juga toko-toko online non-official yang menjual produk Scarlett Whitening. Mereka juga seringkali menjual dengan harga yang bisa lebih murah. Tentu aja menggiurkan yaa. Kalau harganya bisa jauh lebih murah, apakah original juga nih? Teman-teman bisa cek keaslian produk Scarlett Whitening melalui situs ini 👉 verify.scarlettwhitening.com

Caranya gampang banget kok. Kalian tinggal masukin aja data-data yang diminta di form yang ada di website tadi. Nah, kalo ada yang bingung serial kodenya yang mana, serial kode itu bisa kalian temukan di kardus luar packaging product (bagian sticker hologram).


Setelah mengisi form, klik tombol Cek Kode Serial Produk Anda. Tunggu beberapa saat, sistem akan mengecek apakah serial produk yang kamu inputkan terdaftar atau nggak di data Scarlett. Kalau terdaftar, berarti produk kalian terjamin keasliannya. Setelah selesai pengecekan, nanti akan muncul tampilan informasi seperti di bawah ini jika produk kalian terdaftar.

Gampang banget kan teman-teman? 😁 Kalau aku pribadi sih lebih suka beli langsung di toko ya, sekalian belanja cuci mata, hahaha. So far, aku cukup puas dan merekomendasikan Scarlett Glowtening Serum ini ke teman-teman. Produknya udah jelas terdaftar di BPOM, harganya terjangkau, udah gitu aku nggak merasa ada iritasi atau breakout selama menggunakan serum ini. Dan lagi, produk ini juga aman untuk digunakan oleh bumil maupun busui 💛 Next, kalo udah abis, cobain varian yang mana lagi ya...ada rekomendasi? 😉

14 Mei 2022


Gigi senut-senut ketika memasuki kehamilan 9 bulan itu rasa senut-senutnya makin dobel-dobel ternyata. Dulu sewaktu anak pertama, saya baru merasakan gigi senut-senut itu ketika habis lahiran dan usia baby udah 3 bulan. Tapi untuk anak kedua ini, ternyata beda, hahaha. Gigi saya yang berlubang ini mulai senut-senut parah ketika usia kehamilan 8 bulan++. Bener-bener yang rasa nuuuuttnya itu nggak tertahankan.

Selama 3 hari menahan rasa nut-nut saya masih bisa bertahan pakai paracetamol dosis ringan. Selang beberapa hari rasa ngilunya nggak muncul. Oke, bisa agak santai lagi. Tapi akhirnya di hari selanjutnya ngilunya muncul lagi dan bertambah parah, akhirnya saya menyerah 😂 Rasa sakit yang terakhir sampai bikin nangis. Kumur-kumur pakai air garam dan bawang putih udah nggak ngaruh lagi efeknya. Saya putuskan untuk periksa ke dokter gigi di Klinik Gigi Prima Medika yang berada di Sagan, Yogyakarta.

Dulu Pernah Matikan Saraf Gigi di Prima Medika Jogja

Tau Klinik Gigi Prima Medika Sagan itu awalnya dulu rekomendasi dari temen kantor. Kala itu sempat googling juga kalau review pelayanan di klinik ini cukup oke dengan harga yang terjangkau. Waktu pas anak pertama, saya mengikuti prosedur untuk mematikan saraf gigi dan setelah beberapa kali tindakan, akhirnya selesai dengan baik, setelahnya nggak ada masalah lagi. Waktu itu tindakan medis dilakukan oleh drg. Ryan. Meskipun memang harus bolak balik rontgen dan kontrol, tapi pengalaman pertama saya dirawat di klinik gigi ini memuaskan. Jadi, ya untuk masalah senut-senut kali ini saya memutuskan untuk balik lagi aja ke Klinik Gigi Prima Medika Jogja.

Tambal Gigi Permanen untuk Ibu Hamil di Prima Medika Jogja

Sewaktu berniat untuk berkunjung lagi ke Prima Medika Jogja, ternyata drg. Ryan sudah tidak lagi praktek di sana. Ya sudah tanpa pikir panjang dan karena memang saat itu kondisi ngilu udah nggak bisa tertahankan lagi, saya minta untuk ketemu dengan dokter gigi yang saat itu sedang praktek saja. 

Sore itu untuk kali pertama saya bertemu dengan drg. Dicsi. Beliau dokter perempuan, orangnya ramah dan komunikatif ketika diajak ngobrol maupun konsultasi. Bukan tipe dokter yang pengennya buru-buru kelar gitu lho. Saya konsultasi untuk permasalahan dua lubang gigi yang akhirnya ketika hamil kerasa tambah senut-senut luar biasa. Tak lupa menyampaikan juga jika saat itu saya dalam keadaan hamil dan sudah masuk trimester terakhir.

Sewaktu kontrol pertama, tindakan yang diberikan hanya melakukan observasi, membersihkan gigi saya yang berlubang, dan melakukan penambalan sementara. Nggak ada pemberian obat sama sekali. Saya diminta untuk datang kembali dua minggu kemudian atau jika gigi terasa sakit. Setelah pertemuan pertama saya dengan drg. Dicsi, Alhamdulillah senut-senut nggak pernah muncul lagi.

Tepat dua minggu sesuai jadwal, saya kembali untuk kontrol dan sekaligus tindakan menambal permanen gigi yang berlubang. Ini kali pertama saya tambal gigi permanen. Prosesnya ternyata nggak lama ya, seingat saya nggak sampai sejam deh. Gigi saya ditambal menggunakan bahan tambalan yang berwarna sama dengan warna gigi asli. Dokter Dicsi nggak tremor sewaktu memproses pemasangan tambalan. Hasil tambalannya pun rapih, menyerupai gigi aslinya. Setelah proses tambal permanen selesai, bu dokter hanya berpesan tidak boleh makan dan minum selama 2 jam untuk memastikan tambalan gigi benar-benar sudah siap digunakan. Puji syukur Alhamdulillah sampai dengan tulisan ini diterbitkan (berarti sudah lebih dari 3 bulan), tambalan gigi ini nggak pernah bermasalah sama sekali. Nyaman aja gitu meski dipakai buat maem maeman yang keras.

Biaya Tambal Gigi di Prima Medika Jogja

Soal pembiayaan nih, di Klinik Prima Medika sayangnya nggak menerima BPJS ya. Mereka hanya menerima asuransi tertentu, salah satunya yang saya ingat adalah Mandiri Inhealth dan BNI Life. Kemarin sih saya nggak pake asuransi. Untungnya, biaya tambal gigi permanen di sana ternyata cukup terjangkau. Untuk kontrol pertama seingat saya nggak sampai 200ribu. Sedangkan, untuk biaya tambal gigi kemarin total yang harus saya bayar Rp 375,000. Besar biaya yang dikenakan itu tergantung dengan jenis dan besarnya lubang gigi yang harus ditambal. Kalau kemarin saya tanya ke kasir sih kisarannya di 300-750rb.

Sejauh pengalaman saya mengurus persoalan gigi di Klinik Prima Medika, nggak ada yang mengecewakan sih. Dari sisi pelayanan, tempat, dan biaya semuanya cukup memuaskan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang mungkin sedang mencari info mengenai klinik gigi yang recommended di Jogja. Tapi saya sih berharap semoga nggak perlu sampai kesana deh, nggak usah sakit gigi, sakitnya bikin kapok! Hehe~




Credit header photo by Rudi Fargo on Unsplash

10 Maret 2022


Sudah hampir 2 minggu ini ujianku memasuki usia kehamilan 9 bulan rasa-rasanya bertambah nano-nano. Dimulai dari aku sendiri yang kondisinya ngedrop karena meriang, nggregesi, pilek dan akhirnya batuk. Masih ditambah lagi gigi nyeri luar biasa karena memang ada lubang dan ndilalah karena kondisi lagi hamil ini jadi kambuh dua kali lipat rasa senut-senutnya. 

Ujian Kedua


Lanjut, baru sehari badan rasanya udah mulai agak enakan dan membaik, giliran pak suami yang kemudian jatuh sakit. Nggak main-main, beliau positif COVID-19 (Alhamdulillah saat ini sudah jadi penyintas). Di saat kondisiku yang sedang mulai membaik meski masih rada lemes, kok ya pas banget bapak suamik diuji juga. Alhasil, kami untuk sementara waktu pisah rumah. Alhamdulillah, saat tes swab saya dinyatakan negatif dan itu berarti saya masih bisa ngungsi dan nemenin nak mbarep di rumah orang tua.

Ujian Ketiga (makin naik level)


Baru 2 hari bapak suami menjalani isoman, tetiba anak mbarep saya suhu badannya naik dan terus naik sampai di pagi harinya. Kala itu suhunya tinggi dan stuck diantara 37°C sampai >38°C. Nangis hati saya seketika saat melihat si kecil yang masih aktif tapi badannya panas begitu. Nggak cuman demam, si kecil juga terlihat kesakitan saat pub dan ternyata pubnya cair berlendir disertai bunyi kentut sewaktu dia ngeden. Karena sampai lewat sehari panasnya stuck di angka tinggi dan diare dengan perut kembung, saya putuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. 

Sempat mengalami drama di rumah sakit pertama, akhirnya anak saya bisa ditangani di IGD di rumah sakit kedua. Oleh dokter langsung diminta untuk cek lab fesesnya dan hasilnya Alhamdulillah tidak ditemukan bakteri atau infeksi yang membahayakan. Oke, berarti untuk urusan perut, masih aman. Nak mbarep bisa pulang dan rawat jalan. Untuk demamnya saya masih diminta untuk melanjutkan penggunaan Tempra untuk diberikan saat suhunya mulai naik lagi. Oleh dokter, kami disangoni obat antibiotik untuk diare yang harus diminum selama 10 hari dan probiotik untuk suplemen tambahan yang berfungsi membantu melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus. Semacam bakteri “baik” begitu kalau dari keterangan yang ada di www.alodokter.com 

Ujian Keempat (ternyata masih belum selesai)

Demam yang dialami nak mbarep akhirnya bisa teratasi dan mulai membaik di hari ke-3. Setelah beberapa kali perawatan dengan minum Tempra, akhirnya suhunya mulai stabil normal dan nggak sumeng-sumeng lagi. Tapi, ujian masih berlanjut karena diarenya masih belum teratasi. Ketika pub masih terdengar suara bruuutt, yang dilanjut dengan nak mbarep nyengir kesakitan. Fesesnya juga masih berlendir dan intensitas pubnya terbilang masih tinggi, sehari bisa >5 kali ganti popok.

Di saat saya juga harus wira-wiri jenguk pak suami yang isoman dan kepikiran, sedih karena kala itu masih terlihat lemes, di rumah nak mbarep juga tambah pengen manja-manja sama emaknya karena kondisinya juga baru kesakitan kayak gitu. Ya Allah...Gusti...kayak gini rasanya hati seperti dikoyak-koyak.

Tips Sembuhkan Ruam Popok Sampai Lecet

Sampai pada akhirnya anak saya mengeluh kesakitan (nggak cuman mengeluh ding, sampai nangis terus-terusan) ketika sehabis pub dibersihkan, dia nangis menjerit 😭😭😭 dan ternyata pas saya cek di bagian dekat dubur/anus, benar adanya, ternyata sudah muncul merah-merah dan beberapa bagian terlihat seperti sudah lecet. Mak deg, Ya Allah saya telat banget tau ini, maafkan Ibook nak, maaf. Nak mbarep saya itu termasuk anak yang tahan sakit, kuat ngampet loro, kok ya saya waktu itu nggak curiga ngecek dan memprediksi gitu lho, alhasil baru ketahuan ketika kondisinya sudah agak parah kan 😭😭😭

Selama merawat ruam popok yang sudah cukup parah itu, dramanya luar biasa. Ditambah karena saat itu posisinya kami harus menginap di rumah orang tua saya, yang notabene tiyang sepuh memang cenderung lebih gampang ke-trigger khawatir berlebihan, apalagi sama cucu. Nggak hanya harus menghadapi kondisi anak yang sedang butuh perhatian lebih dan intens, seringkali masih ketambahan harus naik turun menghadapi ujian kesabaran ketika simbahnya mulai kepikiran dan kemudian bersikap yang menambah keruwetan pikiran  Beberapa hari itu rasanya bener-bener berwarna. Kadang kelam, kadang berpelangi. Tapi biar bagaimanapun saya harus bisa tetap semangat dan nggak boleh ngedrop karena kondisinya si mungil yang masih ada di dalam kandungan ini juga butuh perhatian.

Selama merawat luka ruam popok yang sampai lecet itu, ini beberapa hal yang saya lakukan :

1 ⎯ Mengganti penggunaan popok sekali pakai / popok instan dengan clodi (cloth diaper

Saya menggunakan 2 merk popok clodi dari Ningrat (AIO Drypant) dan Babyland. Sejauh penggunaan, semuanya nggak mengecewakan. Perawatannya memang lebih tricky, tapi berangsur-angsur ruam di kulit nak mbarep berkurang dan mengering lecetnya. Dari kejadian ini saya jadi berniat untuk membeli beberapa clodi lagi untuk stok jaga-jaga. Clodi ini juga bisa dipakai sampai dengan BB anak 17kg (di varian lain juga ada yang ukuran jumbo) jadi ya penggunaannya bisa sampai lama. 

Memang sih, menggunakan clodi itu jadi lebih ribet, karena selain proses mencucinya yang sebaiknya dicuci menggunakan sabun lerak, cloth diapers itu insertnya kan tebal jadi butuh waktu lama ketika mengeringkan. Harus bener-bener dijemur di bawah sinar matahari biar cepat kering. Kalau pas cuaca lagi panas sih oke-oke aja, tapi pusing juga kalau pas lagi mendung.

2 ⎯ Sesegera mungkin harus langsung mengganti popok ketika anak pub 

Poin ini yang paling challenging sih, karena anak saya mulai tambah bertenaga dan bisa menolak keras ketika mau digantiin popoknya. Bener-bener yang kayak trauma sakit gitu lho, secara mesti sakit banget lah duburnya dengan kondisi ruam lecet seperti itu 😭 Tapi ya harus dipaksa, mbuh piye carane, pokoknya harus nggak boleh telat kelamaan ganti popok. Karena kondisi diare yang banyak bakterinya nempel kena kulit itu tentu aja makin memperparah ruamnya.

3 ⎯ Wajib mengoleskan diaper rash cream sebelum menggunakan popok

Selama ini anak saya cocok pakai diaper rash cream merk Sanosan dan Pure BB. Review kedua diaper rash cream ini bakal aku share di channel YouTube yah. Keduanya jadi produk andalanku buat urusan peruaman popokan. Ada beberapa perbedaan sih dari kedua diaper rash cream ini, selain dari sisi harga dan tekstur ketika diaplikasikan di kulit. Teman-teman baik bisa intip videonya ajah besok ketika udah publish, hehehe. 
Pure Baby dan Sanosan ini adalah dua merk
andalanku untuk urusan ruam popok

Tips Merawat Anak Diare

Dari dokter IGD rumah sakit kemarin, anakku diresepin obat Interzinc berbentuk sirup manis untuk mengatasi diarenya, sama obat serbuk manis probiotik dari Lacto B. Obat diarenya diminum 1× sehari, sedangkan untuk probiotiknya diminum 3× sehari. Khusus obat diare harus diminum sampai dengan 10 hari, meskipun udah nggak diare, tapi tetep harus diminum sampai 10 hari. Khusus obat serbuk Lacto B dibolehkan untuk dicampur di makanan, minuman, atau dicairkan menggunakan air putih.

Minyak Tawon

Oke, itu tadi pengobatan dari dalam tubuh yaa. Selain minum obat dari dokter, aku juga ngolesin minyak tawon di bagian perut (sambil dipijat lembut) sama di bagian tulang ekor sampai punggung. Minyak tawon itu ternyata cukup membantu juga untuk mengurangi mencret (aku baca juga di kertas petunjuk yang ada di kemasan minyak tawonnya dan ternyata klaimnya sesuai di anakku). 

Penggunaan minyak tawon ini perlu dicoba dikit dulu ya bu ibu, karena ada juga kan yang babynya mungkin kulitnya sensitif dan nggak tahan gitu. Kalo anakku tahan sih dipakein minyak tawon, maksudnya nggak yang ngerasa panas gitu, jadi penggunaannya rutin kulakukan 2× sehari sehabis dia mandi.

***

Alhamdulillah, setelah rutin melakukan perawatan di atas, kondisi anakku berangsur membaik lebih cepat. Haduh, emang yaa bu ibu, selama anak sakit tu rasanya kayak roller coaster banget dah. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat untuk bu ibu lain di luar sana. Terimakasih banyak buat yang udah mampir ke tulisan ini. Jikalau teman-teman ada pengalaman atau tips lainnya, boleh banget sharing di kolom komentar yah. Salam sehat semuanya ✋

23 Februari 2022

╰  Tulisan ini lanjutan dari Part 1 disini  ╯


Proses persalinan di puskesmas

Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT. Akhirnya sudah siap dan dibolehkan buat ngeden. Tapi, sebelum itu, bu bidan membriefing saya terlebih dahulu. Ya, briefingnya dalam keadaan posisi saya udah nggak tahan lagi pengen cepet-cepet kelaaaarr ngeden, hahaha. Secara singkat dijelasin oleh bidan cara ngeden dan ambil nafas saat dirasa sudah mulai lelah. Sesaat oh saya teringat, ini seperti yang video Youtube itu, oke baik, yok saatnya praktek Ajengmas!

Proses lahiran anak pertama saya Alhamdulillah nggak butuh waktu lama, kata bapak suami yang jadi saksi dan korban tangannya saya penyet-penyet sih berjalan ±30 menit. Yang lama itu proses jahitnya, wkwkwk. Hampir sejam seingat saya kala itu. Dan bener kata orang-orang, ternyata rasa sakitnya ketika dijahit itu nano nano sedep 😂 Tapi tenang bu ibu nggak perlu takut, rasa sakitnya keslamur karena saat itu disambi proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). MashaAllah, untuk pertama kalinya melihat wajah bayi kecil mungil itu, perasaannya nggak bisa saya deskripsikan, hanya bisa terus memanjatkan puja puji syukur pada Tuhan, Alhamdulillah bayi mungil saya lahir sehat, tanpa kurang suatu apapun, Alhamdulillah semua prosesnya dilancarkan dan dimudahkan. 


Sesaat setelah selesai persalinan, si kecil langsung dirawat dan dibersihkan oleh bidan. Baru setelah itu Ia didekapkan ke dada saya untuk IMD. Jam 10:00 masuk ke ruang persalinan puskesmas, sore selepas adzan mulai proses lahiran, magrib saya dipersilahkan oleh bu bidan untuk istirahat di bangsal. Alhamdulillah, keseluruhan proses persalinannya tergolong cepat. 

Selesai persalinan saya dipersilahkan untuk bersih-bersih ganti baju dan istirahat. Pakai daster ajah ditambah sarung biar set set set cepet makenya nggak ribet. 

Kita nggak bisa milih siapa yang akan menolong kita

Seingat saya, beberapa hari sebelum HPL tiba, jika kita berencana untuk melakukan persalinan di Puskesmas Tegalrejo, kita diharuskan untuk mendaftarkan diri untuk persalinan terlebih dahulu. Bu ibu bisa juga daftar online kok, nggak harus datang ke puskesmas. Daftar onlinenya seperti apa, sudah saya bahas di tulisan ini. Nah, kebetulan sih kalau saya kemarin daftar persalinannya langsung di puskesmas karena memang pas ngepasi jadwal kontrol. Prosesnya nggak ribet, hanya mengisi formulir, kemudian akan dijelaskan persiapan apa saja yang perlu dilakukan dan disiapkan saat hari H tiba. Ada sejumlah daftar barang-barang yang harus dibawa sendiri dan yang sudah disiapkan oleh pihak puskesmas. Sayangnya, listnya sudah hilang entah kemana, huhu jadi nggak bisa saya share, maafkeun.

Nah, sebelum waktu persalinan tiba, saat pendaftaran itu saya sempat request ke bidan di Puskesmas kalau pengennya besok persalinan sama bidan aja (yang udah pasti perempuan). Tapi kala itu saya dijelaskan bahwa kondisinya mereka nggak bisa memastikan apakah dokter yang jaga saat itu perempuan atau laki-laki. Kalau ngepasi ada dokter yang jaga maka proses persalinan akan ditangani langsung oleh dokter yang jaga waktu itu.

Hyaaa, oke baik. Kita emang enggak bisa milih siapa yang akan menolong kita di saat kita membutuhkan. Ya sudah, terima nasib saja besok, nggak usah ngengkeng dan ngeyel, tah sudah jadi keinginan sejak awal untuk lahiran di puskesmas. Memaksa ini dan itu hanya akan bikin orang lain sebel dan berpotensi mengurangi keikhlasan. Tah, jikalau akhirnya nasib membawa saya ditangani oleh dokter laki-laki, saya dan dia benar-benar dalam keadaan jadi stranger. Nggak pernah berinteraksi sebelumnya, jadi pertemuan kami besok murni karena memang kehendak Tuhan. Dia siapapun itu adalah orang baik yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolong nyawa saya dan anak saya. Bagi saya, ini bukan satu hal masalah besar. Tapi mungkin untuk sebagian ibu ibu hal ini perlu jadi bahan pertimbangan.

Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Bersih dan nggak neko-neko. Dua hal yang bisa saya deskripsikan. Bener-bener bersih dan cukup nyaman buat saya. Ruang persalinan berada di lantai 2. Di sana disediakan tiga tempat tidur seingat saya, salah satunya berada di dekat alat USG. Yap, di Puskesmas Tegalrejo tersedia USG yaa bu-ibu, jadi nggak perlu khawatir, pernah saya bahas juga di tulisan saya sebelumnya di sini. Selain pemantauan detak jantung bayi, alat USG tentu saja penting banget yaa untuk bisa memantau lebih detail pergerakan bayi.


Di ruang persalinan saya nggak merasa ada yang mengganggu sih. Tapi mungkin satu hal yang perlu jadi pertimbangan bu-ibu, kalau saat tindakan kita nggak bisa yang bener-bener private gitu, karena kalau pas ada barengan ibu lain yang juga menunggu persalinan, kita harus share ruangan 😁 itu aja sih mungkin yang perlu jadi pertimbangan.

Ruang istirahat ibu di Puskesmas Tegalrejo

Ruang istirahat untuk ibu pasca melahirkan di Puskesmas Tegalrejo itu tepat di belakang ruang tindakan persalinan. Ruangannya ber-AC dan setiap kamarnya disekat dengan dinding partisi yang tebal. Ada tempat tidur ibu, box bayi, dan kursi untuk penunggu. Meskipun sederhana, tapi untuk menginap satu malam aja sudah sangat cukup kalau menurut saya. Apalagi, kamar mandinya juga bersih meskipun hanya tersedia 1 kamar mandi untuk seluruh pasien.

Untuk fasilitas makanan yang didapat, saya cuman dapet suguhan makanan 2x sewaktu sarapan pagi hari & makan siang. Buat saya kala itu nggak masalah juga karena jujur seringnya kalau mondok di RS aja saya lebih suka beli maem di luar juga 😂 dan waktu itu siangnya kan juga udah dibolehin pulang.

Biaya melahirkan di puskesmas

Sejak saya masuk ruang persalinan sampai dengan dipersilahkan pulang, kami nggak dikenakan biaya apapun karena sudah ditanggung BPJS. Saya pengguna BPJS kelas 1 dan kembali di keterangan awal, bahwa tidak ada perbedaan pelayanan untuk pasien mandiri maupun pengguna asuransi ya. Semua fasilitas yang diberikan oleh Puskesmas Tegalrejo berlaku sama untuk seluruh pasien.

Kalau nggak ditanggung BPJS, alias mandiri, biaya melahirkan di Puskesmas Tegalrejo di tahun 2021 itu ±Rp 700,000 (akan bertambah jika ada tindakan khusus lainnya) informasi ini dikutip dari berita ini.


***

Demikian bu-ibu pengalaman persalinan saya di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Secara keseluruhan, saya puas sih melahirkan di sini. Nggak ada hal-hal yang bikin kapok buat saya. Semuanya sesuai ekspektasi, sesuai prediksi. Saya juga dilayani oleh bidan-bidan yang cak cek cekatan, passionate, ramah, tegas tapi nggak galak nyebelin. Untuk persalinan yang kedua sejujurnya pengen di sini lagi, cuman sayangnya, selama pandemi ini mereka membatasi untuk nggak lagi longgar menerima pasien dari luar domisili. 



Credit ⎯ Photo header by insung yoon on Unsplash

8 Desember 2021



The Bath Buckets

Kenalin nih teman-teman, ada produk lokal bernama The Bath Buckets yang datang dari Magelang, Jawa Tengah. Kalo dari nama brandnya, sama sekali nggak berasa lokalnya ya? Hehehe. Pertemuan saya dengan produk ini gara-gara emang lagi nyari lip balm yang berbahan natural alami. Saya udah beberapa kali cobain produk lip balm macem Nivea yang ngehits dan laris manis banget itu, sampai cobain merk luar Burt's Bees. 

Rice Yogurt - Produk Baru The Bath Buckets
Tapi dari semua yang udah pernah saya coba, tetep aja berasa ada yang kurang dan akhirnya nggak works di bibir kering saya. Beberapa lip balm yang pernah saya coba itu di awal memang bikin lembap, tapi setelah dipakein lip product (lipstick, lip cream, dan kawan-kawannya), tetep aja ujung-ujungnya jadi kering dan bikin ada lapisan kulit di bibir yang jadi bikin risih terus pengen ngelopekin. Alhasil kali ini pengen deh cobain produk yang emang bahannya alami natural, harapannya sih semoga beneran cuco yaa.

The Bath Buckets ini sebenernya punya beberapa produk natural untuk skincare maupun bodycare. Sepertinya justru produk andalannya itu ya sabun batang handmade. Seperti yang ada di foto sebelah ini, salah satu produk barunya The Bath Buckets yang penampakannya gemes banget nggak sih? Buat saya yang bukan pecinta sabun batang aja liatnya ya ampuuuun gemes! Selain sabun batang, minyak perawatan rambut, eye serum, facial scrub, facial wash, masih banyak lagi produk lainnya, bahkan beberapa hari ini saya lihat malah mereka habis experiment bikin spray buat taneman. 

Cuman kali ini baru produk natural lip balmnya aja yang saya cobain. Kedepannya semoga bisa icip cobain juga produknya The Bath Buckets yang lainnya. Selama sebulanan ini saya bergantian pake dua varian natural lip balm dari The Bath Buckets. Review dan perbedaannya seperti apa, yuk lanjut baca sampai selesai yaa 😉



𝑻𝒉𝒆 𝑩𝒂𝒕𝒉 𝑩𝒖𝒄𝒌𝒆𝒕𝒔  |  ᴮˡᵒᵒᵐʸ ᴸⁱᵖ ᴬˡˡ ᴺᵃᵗᵘʳᵃˡ ᴾˡᵘᵐᵖⁱⁿᵍ ᴸⁱᵖ ᴮᵃˡᵐ

Oke, varian lip balm yang pertama ini adalah varian produk yang saya lihat paling laris dari The Bath Buckets. Di official Shopeenya sih udah terjual sampai >600pcs. Jujur, saya memang semakin tergoda untuk checkout natural lip balm ini setelah baca reviewnya di Shopee satu persatu karena pada banyak yang bilang suka dan cocok sama produknya. Berikut ini deskripsi singkat yang ada di etalase produk natural plumping lip balm dari The Bath Buckets:

Lip balm dengan bubuk kayu manis memberikan sedikit rasa pedas di bibir, membantu melancarkan sirkulasi darah sehingga membuat bibir menjadi lebih merah dan menghilangkan kerutan halus pada bibir!

Emang beneran ada rasa pedesnya?

Selama saya menggunakan lip balm ini, saya nggak merasa ada rasa sedikit pedas di bibir sewaktu pemakaian. Kayak ya biasa aja gitu. Meskipun di beberapa reviewnya, nggak sedikit juga yang pada bilang kalo emang ngerasa sedikit pedes.

Sayangnya ini yang bikin saya agak nggak nyaman

Di varian natural plumping lip balm yang ini, justru saya agak ngerasa keganggu sama wangi kayu manisnya. Rasanya tuh wanginya agak aneh gitu. Saya nggak bisa mendeskripsikan seperti apa wanginya, tapi yang jelas, saya jauh lebih memilih untuk mendingan nggak usah ada deh, plain ajalah, hahaha. Cuman kan balik lagi, namanya juga produk natural, tentunya itu emang karena wangi apa adanya yang muncul karena penggunaan bahan yang ada dalam produknya. Sebenernya sih bukan yang menyengat gitu ya tipikal wanginya tuh, tapi tetep bisa kecium mak-wenggg gitu lho meskipun ya lama-lama ilang juga 😂

Bloomy lip all natural plumping lip balm beneran bikin bibir jadi merah?

Soal klaimnya yang bisa membuat bibir jadi lebih merah dan menghilangkan kerutan halus di bibir, selama sebulanan pemakaian saya juga belum merasakannya. Mungkin bisa jadi juga karena saya nggak rutin terus-terusan pakai varian lip balm ini karena emang gonta ganti sama varian yang natural lip balm biasa.

Gimana performanya melembapkan bibir?

Kalo untuk performa melembapkannya, saya acungi jempol deh sama The Bath Bucket 👍 It's works on my lips bro! Horeeee, akhirnya lho baru kali ini nemuin produk lip balm yang bener-bener bisa bekerja dengan baik di bibirku. Huhu, jadi terharu.


𝑻𝒉𝒆 𝑩𝒂𝒕𝒉 𝑩𝒖𝒄𝒌𝒆𝒕𝒔  |  ᴮˡᵒᵒᵐʸ ᴸⁱᵖ ᴬˡˡ ᴺᵃᵗᵘʳᵃˡ ᴸⁱᵖ ᴮᵃˡᵐ

Varian selanjutnya dari produk lip balm The Bath Buckets adalah Bloomy Lip All Natural Lip Balm. Dibanding dengan varian sebelumnya saya bahas di atas, saya lebih suka sama varian yang ini. Karena lebih nyaman aja sih, nggak neko-neko. Kita cari tahu dulu ya deskripsi produk yang diklaim dari natural lip balm ini: 

Mengandung cocoa butter, beeswax, dan minyak biji anggur, mengatasi bibir kering dan pecah pecah, membuat bibir menjadi lembut dan sehat. Sangat baik dipakai sebelum menggunakan lip matte/lipstick untuk lebih melindungi bibir dari paparan zat pewarna. 

Apakah performa melembabkannya lebih baik?

Varian lip balm yang kedua ini bener-bener berasa ringan banget! Varian sebelumnya ringan juga sih, cuman karena ada sedikit wangi rempah yang bikin saya agak nggak nyaman, saya lebih suka yang sekalian nggak ada wanginya sama sekali. Untuk performa melembapkannya, menurut saya sama aja dibanding varian yang plumping. Sama-sama bekerja dengan sangat baik di bibir saya 👍

Saya ini termasuk yang suka lupa dan sering males pake ini itu sebelum tidur malam. Padahal, mestinya sih ya, momen istirahat di malam hari itu adalah timing yang tepat untuk produk-produk skincare bisa bekerja maksimal. Harusnya sih kalau udah sadar punya bibir gampang kering, malam harinya sebelum tidur kan pake lip balm dulu ya biar besok pagi pas bangun udah moist gitu bibirnya. Tapi, selama saya pakai natural lip balm dari The Bath Buckets ini, meskipun malam harinya saya nggak pake lip balm, bibir saya juga tetep aja nggak kering lho, saya juga heran. Mungkin memang inilah jawaban dari sepanjang perjalanan pencairan lip balm yang cocok dan bener-bener works 😍

Jadi, apa bedanya dengan varian Plumping Lip Balm?

Perbedaannya kalau yang saya rasain sih cuman di wanginya aja gaes. Iya, cuman wanginya doang yang beda. Meskipun kalau saya baca-baca reviewnya, banyak yang merasa kalau varian plumping ada rasa pedesnya di bibir. Tapi saya kok enggak ngerasain ya? Kalau untuk efek melembapkannya, sama aja menurut saya. Dari sisi tekstur dan kelembutannya sewaktu dioles di bibir juga sama aja. Jadi ya untuk teman-teman yang mungkin sensitif sama "bau-bau" saya lebih merekomendasikan yang varian Natural Lip Balm.



Gimana efeknya setelah dipakein lip cream dan sebangsanya?

Sejauh saya mencoba berbagai macam merk dan varian lip product, biasanya misalkan udah pakai lip balm sebelumnya, tetep aja ujung-ujungnya bibir tuh jadi kering. Cuman ada satu produk lip cream yang beneran nggak bikin bibir saya kering meskipun udah dipakai berjam-jam, yaitu : L'oreal Rouge Signature. Produk lainnya itu tuh setelah dipakai beberapa jam, ujung-ujungnya akan bikin ada lapisan sendiri di atas bibir gitu lho, dan itu kering ngelopek, jadi ganggu banget kalo pas saya ngatup-ngatupin bibir *semoga paham yak yang saya maksud, wkwkkw. Padahal, banyak yang pada review lip cream atau lip product tadi nggak bikin bibir kering, tapi di saya, tetep aja kering 😒 kan sebel. 

Nah, selama saya pake natural lip balm dari The Bath Buckets ini, pengalaman itu nggak terjadi sama sekali, meskipun pake produk lip cream underated sekalipun. Ini yang paling saya suka dari natural lip balm The Bath Buckets dan kenapa saya bilang natural lip balm ini emang bener-bener bekerja dengan baik di saya.

Kesimpulan

Setelah penggunaan selama sebulan, saya amat sangat merekomendasikan natural lip balm ini untuk teman-teman yang lagi dalam pencarian menemukan lip balm yang beneran melembapkan. Gaes, yang bener aja dong, lip balm ini cuman dibandrol dengan harga Rp 25,000 ajah! Sungguh sangat affordable dengan kualitas dan performa yang diberikan. Udah gitu, kalau kalian berdomisili di Jogja, pembelian lewat Shopee tuh bener-bener bisa memanfaatkan gratis ongkirnya. Saya sih iyes banget deh untuk repurchase lip balm ini besok kalo udah habis. Kayaknya kalo repurchase sekalian nyetok juga kali ya biar bisa dapet promo gratis ongkir. Nah, buat teman-teman yang tertarik untuk cobain The Bath Buckets, kalian bisa order di tautan ini ya 🛒 Link Shopee The Bath Buckets 🟣 Instagram The Bath Buckets

9 Oktober 2021


Ada pemandangan menarik di Ruminate malam ini. Sudah jam 20:00 tapi semangatku belum juga muncul. Padahal hari ini sudah tanggal 9 Oktober 2021. Waktu terus menipis, tapi ku berdoa semangatku semoga segera kembali lagi. Lalu, tanpa sengaja kudengar suara seseorang dari meja seberang. Sepertinya dari seorang ibu paruh baya usia sekitar 30-an yang sedang duduk sendirian di depan laptopnya membelakangiku. Dari meja tempatku yang masih tak bersemangat itu, terlihat ada handphone yang berdiri disangga menggunakan tas kecilnya. Dari layar handphone itu, bisa terlihat ada anak laki-laki kecil yang sepertinya entah sedang belajar atau mengerjakan PR di rumah. Dari mejaku itu, kudengar ibu-ibu tadi bilang ke lelaki kecil di dalam layar handphone : "Kenapa? Udah ngantuk mulai ya?".

Kulihat sesekali ibu tadi melihat dengan cermat slide demi slide presentasi yang ada di layar laptopnya. Sepertinya ibu itu juga sedang belajar. Semangat seorang ibu. Ya Allah, apapun yang sedang diperjuangkan ibu itu, mudah-mudahan semangatnya bisa terus membara sampai dengan selesai. Close tabs, yok bisa yok Ajengmas, sedikit lagi.

26 September 2021


Sebetulnya sudah lama ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Tapi ternyata sampai saat ini yang namanya membagi waktu dan tenaga dengan baik itu masih harus terus belajar, hehe. 

Tahun 2021 nggak kerasa udah berjalan beberapa bulan. Nggak kerasa juga, si kecil nak mbarep saya sudah berusia setahun lebih. Puji syukur Alhamdulillah dengan segala hal yang datang pada keluarga kecil kami di dua tahun terakhir. Memang, apapun yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Siap tak siap, semuanya adalah sebuah jawaban terbaik yang tentunya juga disertai dengan tanggung jawab. 

Perjalanan kehamilan sempat sedikit saya ceritakan di blog ini juga. Sejak dulu saya selalu punya pemikiran bahwa segala hal yang secara alamiah memang harus dijalani, ya sudah dijalani saja apa adanya tanpa bumbu-bumbu drama tambahan. Mungkin, itu yang kemudian membawa saya menjalani masa-masa kehamilan dan melahirkan yang rasanya seperti...ya sudah begitu, ayok dilalui saja. Tanpa mual, tanpa ngidam, cuman satu yang paling kerasa, tambah gampang ngantuk, hehe. Lelah lemes? Ya lelah yang wajar aja, namanya juga hamil, tentu kondisi tubuh tidak se-prima ketika nggak hamil. 

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa melahirkan secara normal anak pertama di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Semuanya serba pertama. Semuanya hanya berawal dari apa yang dibayangkan ketika membaca artikel, jurnal ini itu, atau menonton video dari ibu-ibu lain yang sudah dengan baik hati berbagi ilmu dan pengalaman mereka. Dan kali ini saya juga ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Dulu tak sedikit juga ternyata yang mempertanyakan, kenapa di Puskesmas? Kok berani ya, apalagi anak pertama? Hmm, kenapa tidak?

Kenapa memilih melahirkan di Puskesmas?

Bagi saya pribadi, alasan pertama tentu saja karena kondisi kandungan dan perjalanan kehamilan saya yang Alhamdulillah baik-baik saja dan semua hal yang menjadi syarat untuk bisa lahiran secara normal sudah terpenuhi, tidak ada tanda-tanda kegawatan yang muncul selama itu. Kedua, puskesmas ini mempunyai fasilitas kesehatan 24 jam yang memenuhi untuk bisa melayani proses persalinan. Ketiga, jarak tempuh dan akses jalan Magelang yang lengang dari rumah saya hanya kurang dari 6 kilometer. Keempat, karena saya punya alasan yang sedikit sentimentil untuk memilih Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Kelima, dan bagi saya ini satu hal yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan bagi ibu yang akan melahirkan, adalah chemistry dengan lingkungan di Puskesmas Tegalrejo ini lah yang semakin memantapkan hati saya untuk melakukan persalinan disini.

Singkatnya, ada 5 hal yang jadi pertimbangan saya untuk melahirkan di puskesmas Tegalrejo :
  1. Kondisi kandungan dan perjalanan selama kehamilan baik-baik saja, memenuhi kriteria untuk lahiran secara normal
  2. Puskesmas Tegalrejo punya fasilitas kesehatan 24 jam melayani persalinan
  3. Jarak tempuh <6 kilometer
  4. Alasan sentimentil
  5. Chemistry dengan lingkungan puskesmas (bidan, pelayanan, ruangan, dll)

Dari mana chemistry itu didapatkan? Tentunya nggak cuman sehari dua hari untuk bisa mengetahuinya. Saya sudah beberapa kali mengunjungi puskesmas ini, sembari kontrol kehamilan, saya coba berjalan mengelilingi setiap sudut di sana. Melihat dan mencoba berinteraksi dengan petugas medis yang ada di puskesmas. Menyempatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan bidan dan perawat, sembari memperhatikan bagaimana atmosfir tempat itu dengan saya. Feeling, ya, kala itu rasanya saya benar-benar menyerahkan perasaan saya, dengan tentu saja tetap melibatkan logika dan nggak waton gobras gabrus.

Pendaftaran persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Pendaftaran persalinan di puskesmas dapat dilakukan jauh-jauh hari sebelum HPL tiba. Kalau di Puskesmas Tegalrejo, kita bisa mendaftar untuk persalinan H-2 bulan sebelum HPL. Bu ibu bisa mengisi form pendaftaran secara online melalui tautan berikut ini bit.ly/Dalin_Tejo. Kalau dulu kebetulan saya mendaftar langsung di ruangan petugas persalinan (di lantai 2) karena kala itu bertepatan saya kontrol hamil juga. Setelah mengisi form pendaftaran, petugas di sana menjelaskan dan memberikan secarik kertas yang berisi daftar barang-barang pribadi apa saja yang harus dibawa sendiri oleh pasien ketika ingin melakukan persalinan di puskesmas.

Si Kecil yang memilih kapan Ia ingin lahir ke dunia ini

Kala itu, waktu perkiraan persalinan saya sudah lewat seminggu. Bahkan, di hari yang tadinya diperkirakan saya akan melahirkan, saya masih masuk kerja, hahaha. Masih inget banget waktu di kantor ada teman yang tanya: "Jeng, perutmu udah keliatan gede banget, kapan HPL-nya?".........Saya jawab, "Hari ini", sembari nyengir. Lalu percakapan berakhir dengan hahaha yang awkward. Iya, saya memang pengen ambil cuti mepet, semepet-mepetnya dengan hari persalinan. Tentunya ya biar bisa menikmati waktu bersama si kecil lebih lama sebelum besok harus kembali bekerja. Dan ternyata Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan keinginan itu.

Laki-laki atau perempuan; Sabtu atau Minggu; Siang atau malam; dan untuk segala hal yang jawabannya murni kehendak Yang Maha Kuasa, saya tak pernah berani untuk mencoba ngarani ini dan itu.

Selalu memanjatkan doa, agar jabang bayi selalu sehat, lengkap, dan kuat tanpa kurang. Sampai pada akhirnya sudah lewat hampir dua pekan, tentu saja hati ini mulai jadi khawatir. Bapak suami sudah mulai ancang-ancang, tapi apa boleh buat kala itu si bapak masih harus menjalani Ujian Akhir Semester. Si kecil tak kunjung memberikan tanda-tanda kehadirannya. Saya jadi berprasangka, jangan-jangan ini nak mbarep sengaja nungguin bapaknya selesai semua urusan kuliah? Hmm...alhasil selepas sholat Isya, saya ajak dia bicara sambil elus-elus perut besar saya ini. "Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, mau nanti, atau mau besok, ayok kami insyaAllah sudah siap. Bapak sama Ibu juga udah pengen ketemu. Tenang aja, ndak usah nungguin bapak selesai ujian, bapak udah ijin kok. Tapi, ini Ibu nggak bermaksud maksa lho ya. Ibu manut, ikut nak mbarep pengennya lahir kapan".

"Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, nanti, atau mau besok, ayok...ibu dan bapak siap..."


Puji Tuhan, lagi-lagi, waktu yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Selepas sholat Isya saya ajak ngobrol jabang bayi kecil ini di dalam perut, selang beberapa jam, tepatnya jam 03:00 dini hari, saya mulai kontraksi. Subhanallah. Nggak pernah tau dengan pasti gimana yang namanya kontraksi sebelumnya. Cuman bisa ngebayangin, mengira-ngira dari cerita ibu-ibu di Youtube, dan lagi-lagi feeling. Ya, beneran semuanya soal feeling dan mendengarkan apa kata hati. Mulai dari kontraksi yang rasanya ceklit-ceklit dengan jeda waktu sejam, setengah jam, sampai dengan akhirnya mulai konstan terjadi tiap 5 menit. Jam 08:00 setelah sarapan bubur, tiba-tiba, saya muntah, hoek keluar semua lah itu bubur ayam Gasibu. Untuk kali pertama selama saya hamil, akhirnya saya ngalamin muntah juga. Feeling saya seketika itu langsung minta bapak suami untuk berangkat ke puskesmas, sekarang juga pak!

Proses persalinan di puskesmas

Setibanya di puskesmas, tentu saja saya langsung dipersilahkan menuju ruang persalinan dan dilakukan pengecekan awal. Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo seingat saya bisa menampung hingga 2 atau 3 pasien (sebelum pandemi ya). Satu hal penting yang menjadi catatan, ketika saat itu ada lebih dari 1 ibu hamil yang juga butuh ruang persalinan, kita harus berbagi ruangan dengan ibu hamil lainnya 😊 Untuk saya sih itu nggak jadi masalah, tetap ada sekat yang membatasi juga kok, tapi kan kembali lagi, bisa jadi hal ini membuatmu nggak nyaman. Jadi, sewaktu menjalani proses kontraksi menunggu bukaan membesar, di tempat tidur sebelah ada ibu-ibu lain yang juga sedang menunggu bukaan. Selain itu, saya tidak ingat lagi detailnya seperti apa, kala itu pikiran saya cuman fokus konsentrasi buat menahan rasa sakit 😂 Wis ra kober ngopeni liyane, wkwkwkw.

Oiya, di Puskesmas Tegalrejo tidak ada kelas untuk fasilitas bangsal (ruang perawatan) yaa bu ibu. Semua pasien baik itu pasien umum, BPJS, atau jaminan kesehatan lain akan mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sama. 

Ternyata, setibanya di puskesmas, kondisi saya dinyatakan baru bukaan 2. Hmm, masih bukaan kecil ternyata. Untungnya, oleh bidan di Puskesmas saya diminta tetep stay disana, di ruang persalinan. Mungkin karena kala itu saya pasien pertama yang datang apa ya? Mungkin, bisa jadi.

Nah, ini nih proses yang luar biasa rasanya. Menemani si kecil mencari jalan lahirnya sambil terus mengiringi prosesnya dengan sabar dan doa. Di kepala saya saat itu fokusnya hanya satu, saya harus kuat, mbuh piye carane, MPC! Terus menerus mengafirmasi diri dengan hal-hal positif pokoknya.

Bertahan sampai dengan bukaan 8, air ketuban sudah mulai keluar. Ujian mental dan tenaga silih berganti satu per satu. Di satu sisi harus menahan diri gimana caranya biar nggak ngeden, tapi di sisi lain ternyata pun saya nggak bisa kontrol semua itu sepenuhnya. Ada perasaan rasa bersalah yang kala itu merasa tidak mampu menjalankan tugas kecil untuk menahan ngeden saja terus muncul di kepala saya. Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT.



....saya lanjutkan di postingan berikutnya ya,
udah berasa kepanjangan ini soalnya, hehe.
Monggo, silahkan lanjut ke sini.

Part of

Statistic

Connected

Instagram

Diary Baik Hari Ini. Theme by STS.