Diary

7 Juli 2022


Kalau mengingat kembali momen-momen di penghujung tahun 2021, rasanya masih agak nggak percaya. Bener-bener seperti merasakan keajaiban di tengah kegalauan dan lelah yang ada. Sekarang sih kalau dipikir-pikir lagi, mungkin berasanya lebay, hahaha. Kekuatan mindset lagi-lagi terbukti secara nyata di hidupku. 

“Watch your thoughts, they become your words; watch your words, they become your actions; watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.”

Kalimat dari Lao Tzu yang hampir selalu terngiang-ngiang di kepala saya ketika pikiran-pikiran jelek mulai mengganggu. Kali pertama mendengar kalimat itu di film biografi Margaret Tatcher berjudul The Iron Lady, yang diperankan oleh Maryl Streep. Kalimat yang diucapkan Margaret Tatcher di film tersebut buat saya rasanya menghipnotis. Pikiran kita memang seringkali menjadi trigger penggerak untuk bisa melakukan dan mencapai hal-hal yang mungkin diluar ekspektasi kita.

Tahun kemarin rasanya begitu melelahkan. Selain karena harus menjalani fase kehamilan yang naik turun, saya juga dituntut harus bisa menyelesaikan studi di waktu itu juga, tak ada lagi negosiasi dan tawar menawar yang bisa saya lakukan dengan diri saya sendiri. Udah kepentok banget lah rasanya. Kala itu entah sudah berapa kali saya mencoba untuk ingin menyerah saja. Tapi, lagi-lagi kekuatan pikiran ini selalu mengembalikan niatan saya untuk terus mencoba berusaha sedikit demi sedikit, lagi dan lagi.

Kondisi tubuh yang kala itu memang sedang naik turun karena kehamilan, tak dapat dipungkiri sangat berimbas dengan proses kecil yang sedang saya jalani. Setiap hari rasanya seperti roller coaster. Juggling di waktu yang sama 😂 Pengennya sih bisa konsentrasi buat menyelesaikan tuntas tanggung jawab kerjaan kantor, rumah, dan studi ya. Tapi kala itu badan rasanya ngedrop terus. Sebel banget deh, kenapa susah banget ini badan diajak lari (dalam arti metafora)? Padahal saya lagi butuh banget "kamu" buat terus fire up. Setiap hari, setiap saat ketika dibutuhkan, saya bilang ke diri sendiri kalau saya pasti bisa, saya akan terus berproses meskipun sedikit progresnya, saya tidak akan berhenti sebelum saya benar-benar sudah kalah, dan saya nggak mau saya kalah hanya karena menyerah sebelum mencoba.

Hingga pada akhirnya saya tersadar, saya harus move on dan menghentikan segala keluhan-keluhan ini. Saya berusaha untuk terus mengafirmasi pikiran dengan semangat untuk berubah. Karena ya memang kunci untuk memulai suatu perubahan pada diri sendiri adalah berawal dari mindset, pikiran. Saya juga menyadari bahwa supaya badan ini bisa terus fit dan semangat, saya harus mulai konsisten menerapkan pola hidup sehat bersama keluarga. 

Apa itu pola hidup sehat? Pola hidup sehat adalah gaya hidup dalam menjaga kesehatan tubuh baik secara fisik, pikiran, maupun mental secara menyeluruh. Kenapa harus bersama keluarga? Karena mereka adalah manusia-manusia yang paling berpengaruh buat saya. Apapun yang terjadi pada keluarga, circle utama saya, pastinya berimbas banget ke kehidupan saya. Hal sekecil apapun yang terjadi di keluarga pasti akan berefek ke anggota keluarga yang lain. Sebagai #IbuJuara, tentu saja saya pengen keluarga saya sehat, sehingga bisa punya energi positif buat semangat. Energi tadi, tanpa disadari, layaknya butterfly effect pasti akan ketransfer ke yang lain.

Kenyataannya? Ini jadi satu hal yang challenging juga, hahaha. Nggak bohong deh kalau yang namanya buat konsisten dengan pola hidup sehat itu susahnya minta ampun. Setidaknya ini beberapa hal yang saya lakukan ketika godaan untuk konsisten datang.

1 - Selalu inget sama dampak yang bisa terjadi

Inget-inget lagi kerugian dan resiko apa yang bakalan menimpa kita seandainya berhenti buat berproses. Jadi, nggak cuman inget yang bagian happy-happynya doang, tapi juga inget bagian buruknya kalau kita berhenti. Mengingat kembali dampak yang bisa terjadi sama hidup berimbas ke proses kecil yang akhirnya bisa menjadi kebiasaan baik. Saya selalu menanamkan di dalam mindset kalo kebiasaan itu berawal dari melakukan hal-hal baik meskipun kecil porsinya. 

2 - Sampaikan, ceritakan

Ceritain niatan kita untuk bisa konsisten dengan pola hidup sehat ke orang-orang terdekat. Ke orang-orang yang jadi circle utama kita deh. Jangan sendirian berjuang teman-teman. Dengan melibatkan orang lain, apalagi circle utama, setidaknya mereka nggak akan meremehkan niat dan usaha kita. Malahan, justru bisa jadi pengingat di saat kita mungkin mulai goyah konsistensinya.

3 - Beri reward

Nggak usah nunggu sampai perubahan besar tercapai. Mulai dari perubahan-perubahan kecil aja dulu. Kalau kita atau salah satu anggota keluarga bisa berhasil mencapai kemajuan dari pola hidup sehat, nggak ada salahnya untuk kasih hadiah kecil sebagai penyemangat. Ingat kembali bahwa proses kecil yang terus diulang bisa menjadi kebiasaan baik.

Untuk bisa terus menerus konsisten memang bukan perkara mudah. Jangankan konsisten, untuk mulai berubah aja butuh waktu proses yang nggak singkat. Kalau saat ini dirasa pengen nyerah aja, inget-inget lagi soal dampak yang bisa kita rasain. Jangan lupa juga kalau perubahan memang nggak akan terjadi dalam waktu singkat. Kita harus selalu tetep fokus sama tujuan awal. Pikiranmu akan mempengaruhi bagaimana kamu bertindak. Terus semangat yaa!

14 Mei 2022


Gigi senut-senut ketika memasuki kehamilan 9 bulan itu rasa senut-senutnya makin dobel-dobel ternyata. Dulu sewaktu anak pertama, saya baru merasakan gigi senut-senut itu ketika habis lahiran dan usia baby udah 3 bulan. Tapi untuk anak kedua ini, ternyata beda, hahaha. Gigi saya yang berlubang ini mulai senut-senut parah ketika usia kehamilan 8 bulan++. Bener-bener yang rasa nuuuuttnya itu nggak tertahankan.

Selama 3 hari menahan rasa nut-nut saya masih bisa bertahan pakai paracetamol dosis ringan. Selang beberapa hari rasa ngilunya nggak muncul. Oke, bisa agak santai lagi. Tapi akhirnya di hari selanjutnya ngilunya muncul lagi dan bertambah parah, akhirnya saya menyerah 😂 Rasa sakit yang terakhir sampai bikin nangis. Kumur-kumur pakai air garam dan bawang putih udah nggak ngaruh lagi efeknya. Saya putuskan untuk periksa ke dokter gigi di Klinik Gigi Prima Medika yang berada di Sagan, Yogyakarta.

Dulu Pernah Matikan Saraf Gigi di Prima Medika Jogja

Tau Klinik Gigi Prima Medika Sagan itu awalnya dulu rekomendasi dari temen kantor. Kala itu sempat googling juga kalau review pelayanan di klinik ini cukup oke dengan harga yang terjangkau. Waktu pas anak pertama, saya mengikuti prosedur untuk mematikan saraf gigi dan setelah beberapa kali tindakan, akhirnya selesai dengan baik, setelahnya nggak ada masalah lagi. Waktu itu tindakan medis dilakukan oleh drg. Ryan. Meskipun memang harus bolak balik rontgen dan kontrol, tapi pengalaman pertama saya dirawat di klinik gigi ini memuaskan. Jadi, ya untuk masalah senut-senut kali ini saya memutuskan untuk balik lagi aja ke Klinik Gigi Prima Medika Jogja.

Tambal Gigi Permanen untuk Ibu Hamil di Prima Medika Jogja

Sewaktu berniat untuk berkunjung lagi ke Prima Medika Jogja, ternyata drg. Ryan sudah tidak lagi praktek di sana. Ya sudah tanpa pikir panjang dan karena memang saat itu kondisi ngilu udah nggak bisa tertahankan lagi, saya minta untuk ketemu dengan dokter gigi yang saat itu sedang praktek saja. 

Sore itu untuk kali pertama saya bertemu dengan drg. Dicsi. Beliau dokter perempuan, orangnya ramah dan komunikatif ketika diajak ngobrol maupun konsultasi. Bukan tipe dokter yang pengennya buru-buru kelar gitu lho. Saya konsultasi untuk permasalahan dua lubang gigi yang akhirnya ketika hamil kerasa tambah senut-senut luar biasa. Tak lupa menyampaikan juga jika saat itu saya dalam keadaan hamil dan sudah masuk trimester terakhir.

Sewaktu kontrol pertama, tindakan yang diberikan hanya melakukan observasi, membersihkan gigi saya yang berlubang, dan melakukan penambalan sementara. Nggak ada pemberian obat sama sekali. Saya diminta untuk datang kembali dua minggu kemudian atau jika gigi terasa sakit. Setelah pertemuan pertama saya dengan drg. Dicsi, Alhamdulillah senut-senut nggak pernah muncul lagi.

Tepat dua minggu sesuai jadwal, saya kembali untuk kontrol dan sekaligus tindakan menambal permanen gigi yang berlubang. Ini kali pertama saya tambal gigi permanen. Prosesnya ternyata nggak lama ya, seingat saya nggak sampai sejam deh. Gigi saya ditambal menggunakan bahan tambalan yang berwarna sama dengan warna gigi asli. Dokter Dicsi nggak tremor sewaktu memproses pemasangan tambalan. Hasil tambalannya pun rapih, menyerupai gigi aslinya. Setelah proses tambal permanen selesai, bu dokter hanya berpesan tidak boleh makan dan minum selama 2 jam untuk memastikan tambalan gigi benar-benar sudah siap digunakan. Puji syukur Alhamdulillah sampai dengan tulisan ini diterbitkan (berarti sudah lebih dari 3 bulan), tambalan gigi ini nggak pernah bermasalah sama sekali. Nyaman aja gitu meski dipakai buat maem maeman yang keras.

Biaya Tambal Gigi di Prima Medika Jogja

Soal pembiayaan nih, di Klinik Prima Medika sayangnya nggak menerima BPJS ya. Mereka hanya menerima asuransi tertentu, salah satunya yang saya ingat adalah Mandiri Inhealth dan BNI Life. Kemarin sih saya nggak pake asuransi. Untungnya, biaya tambal gigi permanen di sana ternyata cukup terjangkau. Untuk kontrol pertama seingat saya nggak sampai 200ribu. Sedangkan, untuk biaya tambal gigi kemarin total yang harus saya bayar Rp 375,000. Besar biaya yang dikenakan itu tergantung dengan jenis dan besarnya lubang gigi yang harus ditambal. Kalau kemarin saya tanya ke kasir sih kisarannya di 300-750rb.

Sejauh pengalaman saya mengurus persoalan gigi di Klinik Prima Medika, nggak ada yang mengecewakan sih. Dari sisi pelayanan, tempat, dan biaya semuanya cukup memuaskan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang mungkin sedang mencari info mengenai klinik gigi yang recommended di Jogja. Tapi saya sih berharap semoga nggak perlu sampai kesana deh, nggak usah sakit gigi, sakitnya bikin kapok! Hehe~




Credit header photo by Rudi Fargo on Unsplash

10 Maret 2022


Sudah hampir 2 minggu ini ujianku memasuki usia kehamilan 9 bulan rasa-rasanya bertambah nano-nano. Dimulai dari aku sendiri yang kondisinya ngedrop karena meriang, nggregesi, pilek dan akhirnya batuk. Masih ditambah lagi gigi nyeri luar biasa karena memang ada lubang dan ndilalah karena kondisi lagi hamil ini jadi kambuh dua kali lipat rasa senut-senutnya. 

Ujian Kedua


Lanjut, baru sehari badan rasanya udah mulai agak enakan dan membaik, giliran pak suami yang kemudian jatuh sakit. Nggak main-main, beliau positif COVID-19 (Alhamdulillah saat ini sudah jadi penyintas). Di saat kondisiku yang sedang mulai membaik meski masih rada lemes, kok ya pas banget bapak suamik diuji juga. Alhasil, kami untuk sementara waktu pisah rumah. Alhamdulillah, saat tes swab saya dinyatakan negatif dan itu berarti saya masih bisa ngungsi dan nemenin nak mbarep di rumah orang tua.

Ujian Ketiga (makin naik level)


Baru 2 hari bapak suami menjalani isoman, tetiba anak mbarep saya suhu badannya naik dan terus naik sampai di pagi harinya. Kala itu suhunya tinggi dan stuck diantara 37°C sampai >38°C. Nangis hati saya seketika saat melihat si kecil yang masih aktif tapi badannya panas begitu. Nggak cuman demam, si kecil juga terlihat kesakitan saat pub dan ternyata pubnya cair berlendir disertai bunyi kentut sewaktu dia ngeden. Karena sampai lewat sehari panasnya stuck di angka tinggi dan diare dengan perut kembung, saya putuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. 

Sempat mengalami drama di rumah sakit pertama, akhirnya anak saya bisa ditangani di IGD di rumah sakit kedua. Oleh dokter langsung diminta untuk cek lab fesesnya dan hasilnya Alhamdulillah tidak ditemukan bakteri atau infeksi yang membahayakan. Oke, berarti untuk urusan perut, masih aman. Nak mbarep bisa pulang dan rawat jalan. Untuk demamnya saya masih diminta untuk melanjutkan penggunaan Tempra untuk diberikan saat suhunya mulai naik lagi. Oleh dokter, kami disangoni obat antibiotik untuk diare yang harus diminum selama 10 hari dan probiotik untuk suplemen tambahan yang berfungsi membantu melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus. Semacam bakteri “baik” begitu kalau dari keterangan yang ada di www.alodokter.com 

Ujian Keempat (ternyata masih belum selesai)

Demam yang dialami nak mbarep akhirnya bisa teratasi dan mulai membaik di hari ke-3. Setelah beberapa kali perawatan dengan minum Tempra, akhirnya suhunya mulai stabil normal dan nggak sumeng-sumeng lagi. Tapi, ujian masih berlanjut karena diarenya masih belum teratasi. Ketika pub masih terdengar suara bruuutt, yang dilanjut dengan nak mbarep nyengir kesakitan. Fesesnya juga masih berlendir dan intensitas pubnya terbilang masih tinggi, sehari bisa >5 kali ganti popok.

Di saat saya juga harus wira-wiri jenguk pak suami yang isoman dan kepikiran, sedih karena kala itu masih terlihat lemes, di rumah nak mbarep juga tambah pengen manja-manja sama emaknya karena kondisinya juga baru kesakitan kayak gitu. Ya Allah...Gusti...kayak gini rasanya hati seperti dikoyak-koyak.

Tips Sembuhkan Ruam Popok Sampai Lecet

Sampai pada akhirnya anak saya mengeluh kesakitan (nggak cuman mengeluh ding, sampai nangis terus-terusan) ketika sehabis pub dibersihkan, dia nangis menjerit 😭😭😭 dan ternyata pas saya cek di bagian dekat dubur/anus, benar adanya, ternyata sudah muncul merah-merah dan beberapa bagian terlihat seperti sudah lecet. Mak deg, Ya Allah saya telat banget tau ini, maafkan Ibook nak, maaf. Nak mbarep saya itu termasuk anak yang tahan sakit, kuat ngampet loro, kok ya saya waktu itu nggak curiga ngecek dan memprediksi gitu lho, alhasil baru ketahuan ketika kondisinya sudah agak parah kan 😭😭😭

Selama merawat ruam popok yang sudah cukup parah itu, dramanya luar biasa. Ditambah karena saat itu posisinya kami harus menginap di rumah orang tua saya, yang notabene tiyang sepuh memang cenderung lebih gampang ke-trigger khawatir berlebihan, apalagi sama cucu. Nggak hanya harus menghadapi kondisi anak yang sedang butuh perhatian lebih dan intens, seringkali masih ketambahan harus naik turun menghadapi ujian kesabaran ketika simbahnya mulai kepikiran dan kemudian bersikap yang menambah keruwetan pikiran  Beberapa hari itu rasanya bener-bener berwarna. Kadang kelam, kadang berpelangi. Tapi biar bagaimanapun saya harus bisa tetap semangat dan nggak boleh ngedrop karena kondisinya si mungil yang masih ada di dalam kandungan ini juga butuh perhatian.

Selama merawat luka ruam popok yang sampai lecet itu, ini beberapa hal yang saya lakukan :

1 ⎯ Mengganti penggunaan popok sekali pakai / popok instan dengan clodi (cloth diaper

Saya menggunakan 2 merk popok clodi dari Ningrat (AIO Drypant) dan Babyland. Sejauh penggunaan, semuanya nggak mengecewakan. Perawatannya memang lebih tricky, tapi berangsur-angsur ruam di kulit nak mbarep berkurang dan mengering lecetnya. Dari kejadian ini saya jadi berniat untuk membeli beberapa clodi lagi untuk stok jaga-jaga. Clodi ini juga bisa dipakai sampai dengan BB anak 17kg (di varian lain juga ada yang ukuran jumbo) jadi ya penggunaannya bisa sampai lama. 

Memang sih, menggunakan clodi itu jadi lebih ribet, karena selain proses mencucinya yang sebaiknya dicuci menggunakan sabun lerak, cloth diapers itu insertnya kan tebal jadi butuh waktu lama ketika mengeringkan. Harus bener-bener dijemur di bawah sinar matahari biar cepat kering. Kalau pas cuaca lagi panas sih oke-oke aja, tapi pusing juga kalau pas lagi mendung.

2 ⎯ Sesegera mungkin harus langsung mengganti popok ketika anak pub 

Poin ini yang paling challenging sih, karena anak saya mulai tambah bertenaga dan bisa menolak keras ketika mau digantiin popoknya. Bener-bener yang kayak trauma sakit gitu lho, secara mesti sakit banget lah duburnya dengan kondisi ruam lecet seperti itu 😭 Tapi ya harus dipaksa, mbuh piye carane, pokoknya harus nggak boleh telat kelamaan ganti popok. Karena kondisi diare yang banyak bakterinya nempel kena kulit itu tentu aja makin memperparah ruamnya.

3 ⎯ Wajib mengoleskan diaper rash cream sebelum menggunakan popok

Selama ini anak saya cocok pakai diaper rash cream merk Sanosan dan Pure BB. Review kedua diaper rash cream ini bakal aku share di channel YouTube yah. Keduanya jadi produk andalanku buat urusan peruaman popokan. Ada beberapa perbedaan sih dari kedua diaper rash cream ini, selain dari sisi harga dan tekstur ketika diaplikasikan di kulit. Teman-teman baik bisa intip videonya ajah besok ketika udah publish, hehehe. 
Pure Baby dan Sanosan ini adalah dua merk
andalanku untuk urusan ruam popok

Tips Merawat Anak Diare

Dari dokter IGD rumah sakit kemarin, anakku diresepin obat Interzinc berbentuk sirup manis untuk mengatasi diarenya, sama obat serbuk manis probiotik dari Lacto B. Obat diarenya diminum 1× sehari, sedangkan untuk probiotiknya diminum 3× sehari. Khusus obat diare harus diminum sampai dengan 10 hari, meskipun udah nggak diare, tapi tetep harus diminum sampai 10 hari. Khusus obat serbuk Lacto B dibolehkan untuk dicampur di makanan, minuman, atau dicairkan menggunakan air putih.

Minyak Tawon

Oke, itu tadi pengobatan dari dalam tubuh yaa. Selain minum obat dari dokter, aku juga ngolesin minyak tawon di bagian perut (sambil dipijat lembut) sama di bagian tulang ekor sampai punggung. Minyak tawon itu ternyata cukup membantu juga untuk mengurangi mencret (aku baca juga di kertas petunjuk yang ada di kemasan minyak tawonnya dan ternyata klaimnya sesuai di anakku). 

Penggunaan minyak tawon ini perlu dicoba dikit dulu ya bu ibu, karena ada juga kan yang babynya mungkin kulitnya sensitif dan nggak tahan gitu. Kalo anakku tahan sih dipakein minyak tawon, maksudnya nggak yang ngerasa panas gitu, jadi penggunaannya rutin kulakukan 2× sehari sehabis dia mandi.

***

Alhamdulillah, setelah rutin melakukan perawatan di atas, kondisi anakku berangsur membaik lebih cepat. Haduh, emang yaa bu ibu, selama anak sakit tu rasanya kayak roller coaster banget dah. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat untuk bu ibu lain di luar sana. Terimakasih banyak buat yang udah mampir ke tulisan ini. Jikalau teman-teman ada pengalaman atau tips lainnya, boleh banget sharing di kolom komentar yah. Salam sehat semuanya ✋

23 Februari 2022

╰  Tulisan ini lanjutan dari Part 1 disini  ╯


Proses persalinan di puskesmas

Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT. Akhirnya sudah siap dan dibolehkan buat ngeden. Tapi, sebelum itu, bu bidan membriefing saya terlebih dahulu. Ya, briefingnya dalam keadaan posisi saya udah nggak tahan lagi pengen cepet-cepet kelaaaarr ngeden, hahaha. Secara singkat dijelasin oleh bidan cara ngeden dan ambil nafas saat dirasa sudah mulai lelah. Sesaat oh saya teringat, ini seperti yang video Youtube itu, oke baik, yok saatnya praktek Ajengmas!

Proses lahiran anak pertama saya Alhamdulillah nggak butuh waktu lama, kata bapak suami yang jadi saksi dan korban tangannya saya penyet-penyet sih berjalan ±30 menit. Yang lama itu proses jahitnya, wkwkwk. Hampir sejam seingat saya kala itu. Dan bener kata orang-orang, ternyata rasa sakitnya ketika dijahit itu nano nano sedep 😂 Tapi tenang bu ibu nggak perlu takut, rasa sakitnya keslamur karena saat itu disambi proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). MashaAllah, untuk pertama kalinya melihat wajah bayi kecil mungil itu, perasaannya nggak bisa saya deskripsikan, hanya bisa terus memanjatkan puja puji syukur pada Tuhan, Alhamdulillah bayi mungil saya lahir sehat, tanpa kurang suatu apapun, Alhamdulillah semua prosesnya dilancarkan dan dimudahkan. 


Sesaat setelah selesai persalinan, si kecil langsung dirawat dan dibersihkan oleh bidan. Baru setelah itu Ia didekapkan ke dada saya untuk IMD. Jam 10:00 masuk ke ruang persalinan puskesmas, sore selepas adzan mulai proses lahiran, magrib saya dipersilahkan oleh bu bidan untuk istirahat di bangsal. Alhamdulillah, keseluruhan proses persalinannya tergolong cepat. 

Selesai persalinan saya dipersilahkan untuk bersih-bersih ganti baju dan istirahat. Pakai daster ajah ditambah sarung biar set set set cepet makenya nggak ribet. 

Kita nggak bisa milih siapa yang akan menolong kita

Seingat saya, beberapa hari sebelum HPL tiba, jika kita berencana untuk melakukan persalinan di Puskesmas Tegalrejo, kita diharuskan untuk mendaftarkan diri untuk persalinan terlebih dahulu. Bu ibu bisa juga daftar online kok, nggak harus datang ke puskesmas. Daftar onlinenya seperti apa, sudah saya bahas di tulisan ini. Nah, kebetulan sih kalau saya kemarin daftar persalinannya langsung di puskesmas karena memang pas ngepasi jadwal kontrol. Prosesnya nggak ribet, hanya mengisi formulir, kemudian akan dijelaskan persiapan apa saja yang perlu dilakukan dan disiapkan saat hari H tiba. Ada sejumlah daftar barang-barang yang harus dibawa sendiri dan yang sudah disiapkan oleh pihak puskesmas. Sayangnya, listnya sudah hilang entah kemana, huhu jadi nggak bisa saya share, maafkeun.

Nah, sebelum waktu persalinan tiba, saat pendaftaran itu saya sempat request ke bidan di Puskesmas kalau pengennya besok persalinan sama bidan aja (yang udah pasti perempuan). Tapi kala itu saya dijelaskan bahwa kondisinya mereka nggak bisa memastikan apakah dokter yang jaga saat itu perempuan atau laki-laki. Kalau ngepasi ada dokter yang jaga maka proses persalinan akan ditangani langsung oleh dokter yang jaga waktu itu.

Hyaaa, oke baik. Kita emang enggak bisa milih siapa yang akan menolong kita di saat kita membutuhkan. Ya sudah, terima nasib saja besok, nggak usah ngengkeng dan ngeyel, tah sudah jadi keinginan sejak awal untuk lahiran di puskesmas. Memaksa ini dan itu hanya akan bikin orang lain sebel dan berpotensi mengurangi keikhlasan. Tah, jikalau akhirnya nasib membawa saya ditangani oleh dokter laki-laki, saya dan dia benar-benar dalam keadaan jadi stranger. Nggak pernah berinteraksi sebelumnya, jadi pertemuan kami besok murni karena memang kehendak Tuhan. Dia siapapun itu adalah orang baik yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolong nyawa saya dan anak saya. Bagi saya, ini bukan satu hal masalah besar. Tapi mungkin untuk sebagian ibu ibu hal ini perlu jadi bahan pertimbangan.

Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Bersih dan nggak neko-neko. Dua hal yang bisa saya deskripsikan. Bener-bener bersih dan cukup nyaman buat saya. Ruang persalinan berada di lantai 2. Di sana disediakan tiga tempat tidur seingat saya, salah satunya berada di dekat alat USG. Yap, di Puskesmas Tegalrejo tersedia USG yaa bu-ibu, jadi nggak perlu khawatir, pernah saya bahas juga di tulisan saya sebelumnya di sini. Selain pemantauan detak jantung bayi, alat USG tentu saja penting banget yaa untuk bisa memantau lebih detail pergerakan bayi.


Di ruang persalinan saya nggak merasa ada yang mengganggu sih. Tapi mungkin satu hal yang perlu jadi pertimbangan bu-ibu, kalau saat tindakan kita nggak bisa yang bener-bener private gitu, karena kalau pas ada barengan ibu lain yang juga menunggu persalinan, kita harus share ruangan 😁 itu aja sih mungkin yang perlu jadi pertimbangan.

Ruang istirahat ibu di Puskesmas Tegalrejo

Ruang istirahat untuk ibu pasca melahirkan di Puskesmas Tegalrejo itu tepat di belakang ruang tindakan persalinan. Ruangannya ber-AC dan setiap kamarnya disekat dengan dinding partisi yang tebal. Ada tempat tidur ibu, box bayi, dan kursi untuk penunggu. Meskipun sederhana, tapi untuk menginap satu malam aja sudah sangat cukup kalau menurut saya. Apalagi, kamar mandinya juga bersih meskipun hanya tersedia 1 kamar mandi untuk seluruh pasien.

Untuk fasilitas makanan yang didapat, saya cuman dapet suguhan makanan 2x sewaktu sarapan pagi hari & makan siang. Buat saya kala itu nggak masalah juga karena jujur seringnya kalau mondok di RS aja saya lebih suka beli maem di luar juga 😂 dan waktu itu siangnya kan juga udah dibolehin pulang.

Biaya melahirkan di puskesmas

Sejak saya masuk ruang persalinan sampai dengan dipersilahkan pulang, kami nggak dikenakan biaya apapun karena sudah ditanggung BPJS. Saya pengguna BPJS kelas 1 dan kembali di keterangan awal, bahwa tidak ada perbedaan pelayanan untuk pasien mandiri maupun pengguna asuransi ya. Semua fasilitas yang diberikan oleh Puskesmas Tegalrejo berlaku sama untuk seluruh pasien.

Kalau nggak ditanggung BPJS, alias mandiri, biaya melahirkan di Puskesmas Tegalrejo di tahun 2021 itu ±Rp 700,000 (akan bertambah jika ada tindakan khusus lainnya) informasi ini dikutip dari berita ini.


***

Demikian bu-ibu pengalaman persalinan saya di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Secara keseluruhan, saya puas sih melahirkan di sini. Nggak ada hal-hal yang bikin kapok buat saya. Semuanya sesuai ekspektasi, sesuai prediksi. Saya juga dilayani oleh bidan-bidan yang cak cek cekatan, passionate, ramah, tegas tapi nggak galak nyebelin. Untuk persalinan yang kedua sejujurnya pengen di sini lagi, cuman sayangnya, selama pandemi ini mereka membatasi untuk nggak lagi longgar menerima pasien dari luar domisili. 



Credit ⎯ Photo header by insung yoon on Unsplash

9 Oktober 2021


Ada pemandangan menarik di Ruminate malam ini. Sudah jam 20:00 tapi semangatku belum juga muncul. Padahal hari ini sudah tanggal 9 Oktober 2021. Waktu terus menipis, tapi ku berdoa semangatku semoga segera kembali lagi. Lalu, tanpa sengaja kudengar suara seseorang dari meja seberang. Sepertinya dari seorang ibu paruh baya usia sekitar 30-an yang sedang duduk sendirian di depan laptopnya membelakangiku. Dari meja tempatku yang masih tak bersemangat itu, terlihat ada handphone yang berdiri disangga menggunakan tas kecilnya. Dari layar handphone itu, bisa terlihat ada anak laki-laki kecil yang sepertinya entah sedang belajar atau mengerjakan PR di rumah. Dari mejaku itu, kudengar ibu-ibu tadi bilang ke lelaki kecil di dalam layar handphone : "Kenapa? Udah ngantuk mulai ya?".

Kulihat sesekali ibu tadi melihat dengan cermat slide demi slide presentasi yang ada di layar laptopnya. Sepertinya ibu itu juga sedang belajar. Semangat seorang ibu. Ya Allah, apapun yang sedang diperjuangkan ibu itu, mudah-mudahan semangatnya bisa terus membara sampai dengan selesai. Close tabs, yok bisa yok Ajengmas, sedikit lagi.

26 September 2021


Sebetulnya sudah lama ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Tapi ternyata sampai saat ini yang namanya membagi waktu dan tenaga dengan baik itu masih harus terus belajar, hehe. 

Tahun 2021 nggak kerasa udah berjalan beberapa bulan. Nggak kerasa juga, si kecil nak mbarep saya sudah berusia setahun lebih. Puji syukur Alhamdulillah dengan segala hal yang datang pada keluarga kecil kami di dua tahun terakhir. Memang, apapun yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Siap tak siap, semuanya adalah sebuah jawaban terbaik yang tentunya juga disertai dengan tanggung jawab. 

Perjalanan kehamilan sempat sedikit saya ceritakan di blog ini juga. Sejak dulu saya selalu punya pemikiran bahwa segala hal yang secara alamiah memang harus dijalani, ya sudah dijalani saja apa adanya tanpa bumbu-bumbu drama tambahan. Mungkin, itu yang kemudian membawa saya menjalani masa-masa kehamilan dan melahirkan yang rasanya seperti...ya sudah begitu, ayok dilalui saja. Tanpa mual, tanpa ngidam, cuman satu yang paling kerasa, tambah gampang ngantuk, hehe. Lelah lemes? Ya lelah yang wajar aja, namanya juga hamil, tentu kondisi tubuh tidak se-prima ketika nggak hamil. 

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa melahirkan secara normal anak pertama di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Semuanya serba pertama. Semuanya hanya berawal dari apa yang dibayangkan ketika membaca artikel, jurnal ini itu, atau menonton video dari ibu-ibu lain yang sudah dengan baik hati berbagi ilmu dan pengalaman mereka. Dan kali ini saya juga ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Dulu tak sedikit juga ternyata yang mempertanyakan, kenapa di Puskesmas? Kok berani ya, apalagi anak pertama? Hmm, kenapa tidak?

Kenapa memilih melahirkan di Puskesmas?

Bagi saya pribadi, alasan pertama tentu saja karena kondisi kandungan dan perjalanan kehamilan saya yang Alhamdulillah baik-baik saja dan semua hal yang menjadi syarat untuk bisa lahiran secara normal sudah terpenuhi, tidak ada tanda-tanda kegawatan yang muncul selama itu. Kedua, puskesmas ini mempunyai fasilitas kesehatan 24 jam yang memenuhi untuk bisa melayani proses persalinan. Ketiga, jarak tempuh dan akses jalan Magelang yang lengang dari rumah saya hanya kurang dari 6 kilometer. Keempat, karena saya punya alasan yang sedikit sentimentil untuk memilih Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Kelima, dan bagi saya ini satu hal yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan bagi ibu yang akan melahirkan, adalah chemistry dengan lingkungan di Puskesmas Tegalrejo ini lah yang semakin memantapkan hati saya untuk melakukan persalinan disini.

Singkatnya, ada 5 hal yang jadi pertimbangan saya untuk melahirkan di puskesmas Tegalrejo :
  1. Kondisi kandungan dan perjalanan selama kehamilan baik-baik saja, memenuhi kriteria untuk lahiran secara normal
  2. Puskesmas Tegalrejo punya fasilitas kesehatan 24 jam melayani persalinan
  3. Jarak tempuh <6 kilometer
  4. Alasan sentimentil
  5. Chemistry dengan lingkungan puskesmas (bidan, pelayanan, ruangan, dll)

Dari mana chemistry itu didapatkan? Tentunya nggak cuman sehari dua hari untuk bisa mengetahuinya. Saya sudah beberapa kali mengunjungi puskesmas ini, sembari kontrol kehamilan, saya coba berjalan mengelilingi setiap sudut di sana. Melihat dan mencoba berinteraksi dengan petugas medis yang ada di puskesmas. Menyempatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan bidan dan perawat, sembari memperhatikan bagaimana atmosfir tempat itu dengan saya. Feeling, ya, kala itu rasanya saya benar-benar menyerahkan perasaan saya, dengan tentu saja tetap melibatkan logika dan nggak waton gobras gabrus.

Pendaftaran persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Pendaftaran persalinan di puskesmas dapat dilakukan jauh-jauh hari sebelum HPL tiba. Kalau di Puskesmas Tegalrejo, kita bisa mendaftar untuk persalinan H-2 bulan sebelum HPL. Bu ibu bisa mengisi form pendaftaran secara online melalui tautan berikut ini bit.ly/Dalin_Tejo. Kalau dulu kebetulan saya mendaftar langsung di ruangan petugas persalinan (di lantai 2) karena kala itu bertepatan saya kontrol hamil juga. Setelah mengisi form pendaftaran, petugas di sana menjelaskan dan memberikan secarik kertas yang berisi daftar barang-barang pribadi apa saja yang harus dibawa sendiri oleh pasien ketika ingin melakukan persalinan di puskesmas.

Si Kecil yang memilih kapan Ia ingin lahir ke dunia ini

Kala itu, waktu perkiraan persalinan saya sudah lewat seminggu. Bahkan, di hari yang tadinya diperkirakan saya akan melahirkan, saya masih masuk kerja, hahaha. Masih inget banget waktu di kantor ada teman yang tanya: "Jeng, perutmu udah keliatan gede banget, kapan HPL-nya?".........Saya jawab, "Hari ini", sembari nyengir. Lalu percakapan berakhir dengan hahaha yang awkward. Iya, saya memang pengen ambil cuti mepet, semepet-mepetnya dengan hari persalinan. Tentunya ya biar bisa menikmati waktu bersama si kecil lebih lama sebelum besok harus kembali bekerja. Dan ternyata Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan keinginan itu.

Laki-laki atau perempuan; Sabtu atau Minggu; Siang atau malam; dan untuk segala hal yang jawabannya murni kehendak Yang Maha Kuasa, saya tak pernah berani untuk mencoba ngarani ini dan itu.

Selalu memanjatkan doa, agar jabang bayi selalu sehat, lengkap, dan kuat tanpa kurang. Sampai pada akhirnya sudah lewat hampir dua pekan, tentu saja hati ini mulai jadi khawatir. Bapak suami sudah mulai ancang-ancang, tapi apa boleh buat kala itu si bapak masih harus menjalani Ujian Akhir Semester. Si kecil tak kunjung memberikan tanda-tanda kehadirannya. Saya jadi berprasangka, jangan-jangan ini nak mbarep sengaja nungguin bapaknya selesai semua urusan kuliah? Hmm...alhasil selepas sholat Isya, saya ajak dia bicara sambil elus-elus perut besar saya ini. "Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, mau nanti, atau mau besok, ayok kami insyaAllah sudah siap. Bapak sama Ibu juga udah pengen ketemu. Tenang aja, ndak usah nungguin bapak selesai ujian, bapak udah ijin kok. Tapi, ini Ibu nggak bermaksud maksa lho ya. Ibu manut, ikut nak mbarep pengennya lahir kapan".

"Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, nanti, atau mau besok, ayok...ibu dan bapak siap..."


Puji Tuhan, lagi-lagi, waktu yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Selepas sholat Isya saya ajak ngobrol jabang bayi kecil ini di dalam perut, selang beberapa jam, tepatnya jam 03:00 dini hari, saya mulai kontraksi. Subhanallah. Nggak pernah tau dengan pasti gimana yang namanya kontraksi sebelumnya. Cuman bisa ngebayangin, mengira-ngira dari cerita ibu-ibu di Youtube, dan lagi-lagi feeling. Ya, beneran semuanya soal feeling dan mendengarkan apa kata hati. Mulai dari kontraksi yang rasanya ceklit-ceklit dengan jeda waktu sejam, setengah jam, sampai dengan akhirnya mulai konstan terjadi tiap 5 menit. Jam 08:00 setelah sarapan bubur, tiba-tiba, saya muntah, hoek keluar semua lah itu bubur ayam Gasibu. Untuk kali pertama selama saya hamil, akhirnya saya ngalamin muntah juga. Feeling saya seketika itu langsung minta bapak suami untuk berangkat ke puskesmas, sekarang juga pak!

Proses persalinan di puskesmas

Setibanya di puskesmas, tentu saja saya langsung dipersilahkan menuju ruang persalinan dan dilakukan pengecekan awal. Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo seingat saya bisa menampung hingga 2 atau 3 pasien (sebelum pandemi ya). Satu hal penting yang menjadi catatan, ketika saat itu ada lebih dari 1 ibu hamil yang juga butuh ruang persalinan, kita harus berbagi ruangan dengan ibu hamil lainnya 😊 Untuk saya sih itu nggak jadi masalah, tetap ada sekat yang membatasi juga kok, tapi kan kembali lagi, bisa jadi hal ini membuatmu nggak nyaman. Jadi, sewaktu menjalani proses kontraksi menunggu bukaan membesar, di tempat tidur sebelah ada ibu-ibu lain yang juga sedang menunggu bukaan. Selain itu, saya tidak ingat lagi detailnya seperti apa, kala itu pikiran saya cuman fokus konsentrasi buat menahan rasa sakit 😂 Wis ra kober ngopeni liyane, wkwkwkw.

Oiya, di Puskesmas Tegalrejo tidak ada kelas untuk fasilitas bangsal (ruang perawatan) yaa bu ibu. Semua pasien baik itu pasien umum, BPJS, atau jaminan kesehatan lain akan mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sama. 

Ternyata, setibanya di puskesmas, kondisi saya dinyatakan baru bukaan 2. Hmm, masih bukaan kecil ternyata. Untungnya, oleh bidan di Puskesmas saya diminta tetep stay disana, di ruang persalinan. Mungkin karena kala itu saya pasien pertama yang datang apa ya? Mungkin, bisa jadi.

Nah, ini nih proses yang luar biasa rasanya. Menemani si kecil mencari jalan lahirnya sambil terus mengiringi prosesnya dengan sabar dan doa. Di kepala saya saat itu fokusnya hanya satu, saya harus kuat, mbuh piye carane, MPC! Terus menerus mengafirmasi diri dengan hal-hal positif pokoknya.

Bertahan sampai dengan bukaan 8, air ketuban sudah mulai keluar. Ujian mental dan tenaga silih berganti satu per satu. Di satu sisi harus menahan diri gimana caranya biar nggak ngeden, tapi di sisi lain ternyata pun saya nggak bisa kontrol semua itu sepenuhnya. Ada perasaan rasa bersalah yang kala itu merasa tidak mampu menjalankan tugas kecil untuk menahan ngeden saja terus muncul di kepala saya. Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT.



....saya lanjutkan di postingan berikutnya ya,
udah berasa kepanjangan ini soalnya, hehe.
Monggo, silahkan lanjut ke sini.

Instagram

Diary Baik Hari Ini. Theme by STS.