14 Mei 2022


Gigi senut-senut ketika memasuki kehamilan 9 bulan itu rasa senut-senutnya makin dobel-dobel ternyata. Dulu sewaktu anak pertama, saya baru merasakan gigi senut-senut itu ketika habis lahiran dan usia baby udah 3 bulan. Tapi untuk anak kedua ini, ternyata beda, hahaha. Gigi saya yang berlubang ini mulai senut-senut parah ketika usia kehamilan 8 bulan++. Bener-bener yang rasa nuuuuttnya itu nggak tertahankan.

Selama 3 hari menahan rasa nut-nut saya masih bisa bertahan pakai paracetamol dosis ringan. Selang beberapa hari rasa ngilunya nggak muncul. Oke, bisa agak santai lagi. Tapi akhirnya di hari selanjutnya ngilunya muncul lagi dan bertambah parah, akhirnya saya menyerah 😂 Rasa sakit yang terakhir sampai bikin nangis. Kumur-kumur pakai air garam dan bawang putih udah nggak ngaruh lagi efeknya. Saya putuskan untuk periksa ke dokter gigi di Klinik Gigi Prima Medika yang berada di Sagan, Yogyakarta.

Dulu Pernah Matikan Saraf Gigi di Prima Medika Jogja

Tau Klinik Gigi Prima Medika Sagan itu awalnya dulu rekomendasi dari temen kantor. Kala itu sempat googling juga kalau review pelayanan di klinik ini cukup oke dengan harga yang terjangkau. Waktu pas anak pertama, saya mengikuti prosedur untuk mematikan saraf gigi dan setelah beberapa kali tindakan, akhirnya selesai dengan baik, setelahnya nggak ada masalah lagi. Waktu itu tindakan medis dilakukan oleh drg. Ryan. Meskipun memang harus bolak balik rontgen dan kontrol, tapi pengalaman pertama saya dirawat di klinik gigi ini memuaskan. Jadi, ya untuk masalah senut-senut kali ini saya memutuskan untuk balik lagi aja ke Klinik Gigi Prima Medika Jogja.

Tambal Gigi Permanen untuk Ibu Hamil di Prima Medika Jogja

Sewaktu berniat untuk berkunjung lagi ke Prima Medika Jogja, ternyata drg. Ryan sudah tidak lagi praktek di sana. Ya sudah tanpa pikir panjang dan karena memang saat itu kondisi ngilu udah nggak bisa tertahankan lagi, saya minta untuk ketemu dengan dokter gigi yang saat itu sedang praktek saja. 

Sore itu untuk kali pertama saya bertemu dengan drg. Dicsi. Beliau dokter perempuan, orangnya ramah dan komunikatif ketika diajak ngobrol maupun konsultasi. Bukan tipe dokter yang pengennya buru-buru kelar gitu lho. Saya konsultasi untuk permasalahan dua lubang gigi yang akhirnya ketika hamil kerasa tambah senut-senut luar biasa. Tak lupa menyampaikan juga jika saat itu saya dalam keadaan hamil dan sudah masuk trimester terakhir.

Sewaktu kontrol pertama, tindakan yang diberikan hanya melakukan observasi, membersihkan gigi saya yang berlubang, dan melakukan penambalan sementara. Nggak ada pemberian obat sama sekali. Saya diminta untuk datang kembali dua minggu kemudian atau jika gigi terasa sakit. Setelah pertemuan pertama saya dengan drg. Dicsi, Alhamdulillah senut-senut nggak pernah muncul lagi.

Tepat dua minggu sesuai jadwal, saya kembali untuk kontrol dan sekaligus tindakan menambal permanen gigi yang berlubang. Ini kali pertama saya tambal gigi permanen. Prosesnya ternyata nggak lama ya, seingat saya nggak sampai sejam deh. Gigi saya ditambal menggunakan bahan tambalan yang berwarna sama dengan warna gigi asli. Dokter Dicsi nggak tremor sewaktu memproses pemasangan tambalan. Hasil tambalannya pun rapih, menyerupai gigi aslinya. Setelah proses tambal permanen selesai, bu dokter hanya berpesan tidak boleh makan dan minum selama 2 jam untuk memastikan tambalan gigi benar-benar sudah siap digunakan. Puji syukur Alhamdulillah sampai dengan tulisan ini diterbitkan (berarti sudah lebih dari 3 bulan), tambalan gigi ini nggak pernah bermasalah sama sekali. Nyaman aja gitu meski dipakai buat maem maeman yang keras.

Biaya Tambal Gigi di Prima Medika Jogja

Soal pembiayaan nih, di Klinik Prima Medika sayangnya nggak menerima BPJS ya. Mereka hanya menerima asuransi tertentu, salah satunya yang saya ingat adalah Mandiri Inhealth dan BNI Life. Kemarin sih saya nggak pake asuransi. Untungnya, biaya tambal gigi permanen di sana ternyata cukup terjangkau. Untuk kontrol pertama seingat saya nggak sampai 200ribu. Sedangkan, untuk biaya tambal gigi kemarin total yang harus saya bayar Rp 375,000. Besar biaya yang dikenakan itu tergantung dengan jenis dan besarnya lubang gigi yang harus ditambal. Kalau kemarin saya tanya ke kasir sih kisarannya di 300-750rb.

Sejauh pengalaman saya mengurus persoalan gigi di Klinik Prima Medika, nggak ada yang mengecewakan sih. Dari sisi pelayanan, tempat, dan biaya semuanya cukup memuaskan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman yang mungkin sedang mencari info mengenai klinik gigi yang recommended di Jogja. Tapi saya sih berharap semoga nggak perlu sampai kesana deh, nggak usah sakit gigi, sakitnya bikin kapok! Hehe~




Credit header photo by Rudi Fargo on Unsplash

10 Maret 2022


Sudah hampir 2 minggu ini ujianku memasuki usia kehamilan 9 bulan rasa-rasanya bertambah nano-nano. Dimulai dari aku sendiri yang kondisinya ngedrop karena meriang, nggregesi, pilek dan akhirnya batuk. Masih ditambah lagi gigi nyeri luar biasa karena memang ada lubang dan ndilalah karena kondisi lagi hamil ini jadi kambuh dua kali lipat rasa senut-senutnya. 

Ujian Kedua


Lanjut, baru sehari badan rasanya udah mulai agak enakan dan membaik, giliran pak suami yang kemudian jatuh sakit. Nggak main-main, beliau positif COVID-19 (Alhamdulillah saat ini sudah jadi penyintas). Di saat kondisiku yang sedang mulai membaik meski masih rada lemes, kok ya pas banget bapak suamik diuji juga. Alhasil, kami untuk sementara waktu pisah rumah. Alhamdulillah, saat tes swab saya dinyatakan negatif dan itu berarti saya masih bisa ngungsi dan nemenin nak mbarep di rumah orang tua.

Ujian Ketiga (makin naik level)


Baru 2 hari bapak suami menjalani isoman, tetiba anak mbarep saya suhu badannya naik dan terus naik sampai di pagi harinya. Kala itu suhunya tinggi dan stuck diantara 37°C sampai >38°C. Nangis hati saya seketika saat melihat si kecil yang masih aktif tapi badannya panas begitu. Nggak cuman demam, si kecil juga terlihat kesakitan saat pub dan ternyata pubnya cair berlendir disertai bunyi kentut sewaktu dia ngeden. Karena sampai lewat sehari panasnya stuck di angka tinggi dan diare dengan perut kembung, saya putuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. 

Sempat mengalami drama di rumah sakit pertama, akhirnya anak saya bisa ditangani di IGD di rumah sakit kedua. Oleh dokter langsung diminta untuk cek lab fesesnya dan hasilnya Alhamdulillah tidak ditemukan bakteri atau infeksi yang membahayakan. Oke, berarti untuk urusan perut, masih aman. Nak mbarep bisa pulang dan rawat jalan. Untuk demamnya saya masih diminta untuk melanjutkan penggunaan Tempra untuk diberikan saat suhunya mulai naik lagi. Oleh dokter, kami disangoni obat antibiotik untuk diare yang harus diminum selama 10 hari dan probiotik untuk suplemen tambahan yang berfungsi membantu melindungi dan memelihara kesehatan sistem pencernaan, terutama lambung dan usus. Semacam bakteri “baik” begitu kalau dari keterangan yang ada di www.alodokter.com 

Ujian Keempat (ternyata masih belum selesai)

Demam yang dialami nak mbarep akhirnya bisa teratasi dan mulai membaik di hari ke-3. Setelah beberapa kali perawatan dengan minum Tempra, akhirnya suhunya mulai stabil normal dan nggak sumeng-sumeng lagi. Tapi, ujian masih berlanjut karena diarenya masih belum teratasi. Ketika pub masih terdengar suara bruuutt, yang dilanjut dengan nak mbarep nyengir kesakitan. Fesesnya juga masih berlendir dan intensitas pubnya terbilang masih tinggi, sehari bisa >5 kali ganti popok.

Di saat saya juga harus wira-wiri jenguk pak suami yang isoman dan kepikiran, sedih karena kala itu masih terlihat lemes, di rumah nak mbarep juga tambah pengen manja-manja sama emaknya karena kondisinya juga baru kesakitan kayak gitu. Ya Allah...Gusti...kayak gini rasanya hati seperti dikoyak-koyak.

Tips Sembuhkan Ruam Popok Sampai Lecet

Sampai pada akhirnya anak saya mengeluh kesakitan (nggak cuman mengeluh ding, sampai nangis terus-terusan) ketika sehabis pub dibersihkan, dia nangis menjerit 😭😭😭 dan ternyata pas saya cek di bagian dekat dubur/anus, benar adanya, ternyata sudah muncul merah-merah dan beberapa bagian terlihat seperti sudah lecet. Mak deg, Ya Allah saya telat banget tau ini, maafkan Ibook nak, maaf. Nak mbarep saya itu termasuk anak yang tahan sakit, kuat ngampet loro, kok ya saya waktu itu nggak curiga ngecek dan memprediksi gitu lho, alhasil baru ketahuan ketika kondisinya sudah agak parah kan 😭😭😭

Selama merawat ruam popok yang sudah cukup parah itu, dramanya luar biasa. Ditambah karena saat itu posisinya kami harus menginap di rumah orang tua saya, yang notabene tiyang sepuh memang cenderung lebih gampang ke-trigger khawatir berlebihan, apalagi sama cucu. Nggak hanya harus menghadapi kondisi anak yang sedang butuh perhatian lebih dan intens, seringkali masih ketambahan harus naik turun menghadapi ujian kesabaran ketika simbahnya mulai kepikiran dan kemudian bersikap yang menambah keruwetan pikiran  Beberapa hari itu rasanya bener-bener berwarna. Kadang kelam, kadang berpelangi. Tapi biar bagaimanapun saya harus bisa tetap semangat dan nggak boleh ngedrop karena kondisinya si mungil yang masih ada di dalam kandungan ini juga butuh perhatian.

Selama merawat luka ruam popok yang sampai lecet itu, ini beberapa hal yang saya lakukan :

1 ⎯ Mengganti penggunaan popok sekali pakai / popok instan dengan clodi (cloth diaper

Saya menggunakan 2 merk popok clodi dari Ningrat (AIO Drypant) dan Babyland. Sejauh penggunaan, semuanya nggak mengecewakan. Perawatannya memang lebih tricky, tapi berangsur-angsur ruam di kulit nak mbarep berkurang dan mengering lecetnya. Dari kejadian ini saya jadi berniat untuk membeli beberapa clodi lagi untuk stok jaga-jaga. Clodi ini juga bisa dipakai sampai dengan BB anak 17kg (di varian lain juga ada yang ukuran jumbo) jadi ya penggunaannya bisa sampai lama. 

Memang sih, menggunakan clodi itu jadi lebih ribet, karena selain proses mencucinya yang sebaiknya dicuci menggunakan sabun lerak, cloth diapers itu insertnya kan tebal jadi butuh waktu lama ketika mengeringkan. Harus bener-bener dijemur di bawah sinar matahari biar cepat kering. Kalau pas cuaca lagi panas sih oke-oke aja, tapi pusing juga kalau pas lagi mendung.

2 ⎯ Sesegera mungkin harus langsung mengganti popok ketika anak pub 

Poin ini yang paling challenging sih, karena anak saya mulai tambah bertenaga dan bisa menolak keras ketika mau digantiin popoknya. Bener-bener yang kayak trauma sakit gitu lho, secara mesti sakit banget lah duburnya dengan kondisi ruam lecet seperti itu 😭 Tapi ya harus dipaksa, mbuh piye carane, pokoknya harus nggak boleh telat kelamaan ganti popok. Karena kondisi diare yang banyak bakterinya nempel kena kulit itu tentu aja makin memperparah ruamnya.

3 ⎯ Wajib mengoleskan diaper rash cream sebelum menggunakan popok

Selama ini anak saya cocok pakai diaper rash cream merk Sanosan dan Pure BB. Review kedua diaper rash cream ini bakal aku share di channel YouTube yah. Keduanya jadi produk andalanku buat urusan peruaman popokan. Ada beberapa perbedaan sih dari kedua diaper rash cream ini, selain dari sisi harga dan tekstur ketika diaplikasikan di kulit. Teman-teman baik bisa intip videonya ajah besok ketika udah publish, hehehe. 
Pure Baby dan Sanosan ini adalah dua merk
andalanku untuk urusan ruam popok

Tips Merawat Anak Diare

Dari dokter IGD rumah sakit kemarin, anakku diresepin obat Interzinc berbentuk sirup manis untuk mengatasi diarenya, sama obat serbuk manis probiotik dari Lacto B. Obat diarenya diminum 1× sehari, sedangkan untuk probiotiknya diminum 3× sehari. Khusus obat diare harus diminum sampai dengan 10 hari, meskipun udah nggak diare, tapi tetep harus diminum sampai 10 hari. Khusus obat serbuk Lacto B dibolehkan untuk dicampur di makanan, minuman, atau dicairkan menggunakan air putih.

Minyak Tawon

Oke, itu tadi pengobatan dari dalam tubuh yaa. Selain minum obat dari dokter, aku juga ngolesin minyak tawon di bagian perut (sambil dipijat lembut) sama di bagian tulang ekor sampai punggung. Minyak tawon itu ternyata cukup membantu juga untuk mengurangi mencret (aku baca juga di kertas petunjuk yang ada di kemasan minyak tawonnya dan ternyata klaimnya sesuai di anakku). 

Penggunaan minyak tawon ini perlu dicoba dikit dulu ya bu ibu, karena ada juga kan yang babynya mungkin kulitnya sensitif dan nggak tahan gitu. Kalo anakku tahan sih dipakein minyak tawon, maksudnya nggak yang ngerasa panas gitu, jadi penggunaannya rutin kulakukan 2× sehari sehabis dia mandi.

***

Alhamdulillah, setelah rutin melakukan perawatan di atas, kondisi anakku berangsur membaik lebih cepat. Haduh, emang yaa bu ibu, selama anak sakit tu rasanya kayak roller coaster banget dah. Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat untuk bu ibu lain di luar sana. Terimakasih banyak buat yang udah mampir ke tulisan ini. Jikalau teman-teman ada pengalaman atau tips lainnya, boleh banget sharing di kolom komentar yah. Salam sehat semuanya ✋

23 Februari 2022

╰  Tulisan ini lanjutan dari Part 1 disini  ╯


Proses persalinan di puskesmas

Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT. Akhirnya sudah siap dan dibolehkan buat ngeden. Tapi, sebelum itu, bu bidan membriefing saya terlebih dahulu. Ya, briefingnya dalam keadaan posisi saya udah nggak tahan lagi pengen cepet-cepet kelaaaarr ngeden, hahaha. Secara singkat dijelasin oleh bidan cara ngeden dan ambil nafas saat dirasa sudah mulai lelah. Sesaat oh saya teringat, ini seperti yang video Youtube itu, oke baik, yok saatnya praktek Ajengmas!

Proses lahiran anak pertama saya Alhamdulillah nggak butuh waktu lama, kata bapak suami yang jadi saksi dan korban tangannya saya penyet-penyet sih berjalan ±30 menit. Yang lama itu proses jahitnya, wkwkwk. Hampir sejam seingat saya kala itu. Dan bener kata orang-orang, ternyata rasa sakitnya ketika dijahit itu nano nano sedep 😂 Tapi tenang bu ibu nggak perlu takut, rasa sakitnya keslamur karena saat itu disambi proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). MashaAllah, untuk pertama kalinya melihat wajah bayi kecil mungil itu, perasaannya nggak bisa saya deskripsikan, hanya bisa terus memanjatkan puja puji syukur pada Tuhan, Alhamdulillah bayi mungil saya lahir sehat, tanpa kurang suatu apapun, Alhamdulillah semua prosesnya dilancarkan dan dimudahkan. 


Sesaat setelah selesai persalinan, si kecil langsung dirawat dan dibersihkan oleh bidan. Baru setelah itu Ia didekapkan ke dada saya untuk IMD. Jam 10:00 masuk ke ruang persalinan puskesmas, sore selepas adzan mulai proses lahiran, magrib saya dipersilahkan oleh bu bidan untuk istirahat di bangsal. Alhamdulillah, keseluruhan proses persalinannya tergolong cepat. 

Selesai persalinan saya dipersilahkan untuk bersih-bersih ganti baju dan istirahat. Pakai daster ajah ditambah sarung biar set set set cepet makenya nggak ribet. 

Kita nggak bisa milih siapa yang akan menolong kita

Seingat saya, beberapa hari sebelum HPL tiba, jika kita berencana untuk melakukan persalinan di Puskesmas Tegalrejo, kita diharuskan untuk mendaftarkan diri untuk persalinan terlebih dahulu. Bu ibu bisa juga daftar online kok, nggak harus datang ke puskesmas. Daftar onlinenya seperti apa, sudah saya bahas di tulisan ini. Nah, kebetulan sih kalau saya kemarin daftar persalinannya langsung di puskesmas karena memang pas ngepasi jadwal kontrol. Prosesnya nggak ribet, hanya mengisi formulir, kemudian akan dijelaskan persiapan apa saja yang perlu dilakukan dan disiapkan saat hari H tiba. Ada sejumlah daftar barang-barang yang harus dibawa sendiri dan yang sudah disiapkan oleh pihak puskesmas. Sayangnya, listnya sudah hilang entah kemana, huhu jadi nggak bisa saya share, maafkeun.

Nah, sebelum waktu persalinan tiba, saat pendaftaran itu saya sempat request ke bidan di Puskesmas kalau pengennya besok persalinan sama bidan aja (yang udah pasti perempuan). Tapi kala itu saya dijelaskan bahwa kondisinya mereka nggak bisa memastikan apakah dokter yang jaga saat itu perempuan atau laki-laki. Kalau ngepasi ada dokter yang jaga maka proses persalinan akan ditangani langsung oleh dokter yang jaga waktu itu.

Hyaaa, oke baik. Kita emang enggak bisa milih siapa yang akan menolong kita di saat kita membutuhkan. Ya sudah, terima nasib saja besok, nggak usah ngengkeng dan ngeyel, tah sudah jadi keinginan sejak awal untuk lahiran di puskesmas. Memaksa ini dan itu hanya akan bikin orang lain sebel dan berpotensi mengurangi keikhlasan. Tah, jikalau akhirnya nasib membawa saya ditangani oleh dokter laki-laki, saya dan dia benar-benar dalam keadaan jadi stranger. Nggak pernah berinteraksi sebelumnya, jadi pertemuan kami besok murni karena memang kehendak Tuhan. Dia siapapun itu adalah orang baik yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolong nyawa saya dan anak saya. Bagi saya, ini bukan satu hal masalah besar. Tapi mungkin untuk sebagian ibu ibu hal ini perlu jadi bahan pertimbangan.

Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Bersih dan nggak neko-neko. Dua hal yang bisa saya deskripsikan. Bener-bener bersih dan cukup nyaman buat saya. Ruang persalinan berada di lantai 2. Di sana disediakan tiga tempat tidur seingat saya, salah satunya berada di dekat alat USG. Yap, di Puskesmas Tegalrejo tersedia USG yaa bu-ibu, jadi nggak perlu khawatir, pernah saya bahas juga di tulisan saya sebelumnya di sini. Selain pemantauan detak jantung bayi, alat USG tentu saja penting banget yaa untuk bisa memantau lebih detail pergerakan bayi.


Di ruang persalinan saya nggak merasa ada yang mengganggu sih. Tapi mungkin satu hal yang perlu jadi pertimbangan bu-ibu, kalau saat tindakan kita nggak bisa yang bener-bener private gitu, karena kalau pas ada barengan ibu lain yang juga menunggu persalinan, kita harus share ruangan 😁 itu aja sih mungkin yang perlu jadi pertimbangan.

Ruang istirahat ibu di Puskesmas Tegalrejo

Ruang istirahat untuk ibu pasca melahirkan di Puskesmas Tegalrejo itu tepat di belakang ruang tindakan persalinan. Ruangannya ber-AC dan setiap kamarnya disekat dengan dinding partisi yang tebal. Ada tempat tidur ibu, box bayi, dan kursi untuk penunggu. Meskipun sederhana, tapi untuk menginap satu malam aja sudah sangat cukup kalau menurut saya. Apalagi, kamar mandinya juga bersih meskipun hanya tersedia 1 kamar mandi untuk seluruh pasien.

Untuk fasilitas makanan yang didapat, saya cuman dapet suguhan makanan 2x sewaktu sarapan pagi hari & makan siang. Buat saya kala itu nggak masalah juga karena jujur seringnya kalau mondok di RS aja saya lebih suka beli maem di luar juga 😂 dan waktu itu siangnya kan juga udah dibolehin pulang.

Biaya melahirkan di puskesmas

Sejak saya masuk ruang persalinan sampai dengan dipersilahkan pulang, kami nggak dikenakan biaya apapun karena sudah ditanggung BPJS. Saya pengguna BPJS kelas 1 dan kembali di keterangan awal, bahwa tidak ada perbedaan pelayanan untuk pasien mandiri maupun pengguna asuransi ya. Semua fasilitas yang diberikan oleh Puskesmas Tegalrejo berlaku sama untuk seluruh pasien.

Kalau nggak ditanggung BPJS, alias mandiri, biaya melahirkan di Puskesmas Tegalrejo di tahun 2021 itu ±Rp 700,000 (akan bertambah jika ada tindakan khusus lainnya) informasi ini dikutip dari berita ini.


***

Demikian bu-ibu pengalaman persalinan saya di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Secara keseluruhan, saya puas sih melahirkan di sini. Nggak ada hal-hal yang bikin kapok buat saya. Semuanya sesuai ekspektasi, sesuai prediksi. Saya juga dilayani oleh bidan-bidan yang cak cek cekatan, passionate, ramah, tegas tapi nggak galak nyebelin. Untuk persalinan yang kedua sejujurnya pengen di sini lagi, cuman sayangnya, selama pandemi ini mereka membatasi untuk nggak lagi longgar menerima pasien dari luar domisili. 



Credit ⎯ Photo header by insung yoon on Unsplash

Instagram

Diary Baik Hari Ini. Theme by STS.