Puskesmas Tegalrejo

26 September 2021


Sebetulnya sudah lama ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Tapi ternyata sampai saat ini yang namanya membagi waktu dan tenaga dengan baik itu masih harus terus belajar, hehe. 

Tahun 2021 nggak kerasa udah berjalan beberapa bulan. Nggak kerasa juga, si kecil nak mbarep saya sudah berusia setahun lebih. Puji syukur Alhamdulillah dengan segala hal yang datang pada keluarga kecil kami di dua tahun terakhir. Memang, apapun yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Siap tak siap, semuanya adalah sebuah jawaban terbaik yang tentunya juga disertai dengan tanggung jawab. 

Perjalanan kehamilan sempat sedikit saya ceritakan di blog ini juga. Sejak dulu saya selalu punya pemikiran bahwa segala hal yang secara alamiah memang harus dijalani, ya sudah dijalani saja apa adanya tanpa bumbu-bumbu drama tambahan. Mungkin, itu yang kemudian membawa saya menjalani masa-masa kehamilan dan melahirkan yang rasanya seperti...ya sudah begitu, ayok dilalui saja. Tanpa mual, tanpa ngidam, cuman satu yang paling kerasa, tambah gampang ngantuk, hehe. Lelah lemes? Ya lelah yang wajar aja, namanya juga hamil, tentu kondisi tubuh tidak se-prima ketika nggak hamil. 

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa melahirkan secara normal anak pertama di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Semuanya serba pertama. Semuanya hanya berawal dari apa yang dibayangkan ketika membaca artikel, jurnal ini itu, atau menonton video dari ibu-ibu lain yang sudah dengan baik hati berbagi ilmu dan pengalaman mereka. Dan kali ini saya juga ingin berbagi pengalaman melahirkan di puskesmas. Dulu tak sedikit juga ternyata yang mempertanyakan, kenapa di Puskesmas? Kok berani ya, apalagi anak pertama? Hmm, kenapa tidak?

Kenapa memilih melahirkan di Puskesmas?

Bagi saya pribadi, alasan pertama tentu saja karena kondisi kandungan dan perjalanan kehamilan saya yang Alhamdulillah baik-baik saja dan semua hal yang menjadi syarat untuk bisa lahiran secara normal sudah terpenuhi, tidak ada tanda-tanda kegawatan yang muncul selama itu. Kedua, puskesmas ini mempunyai fasilitas kesehatan 24 jam yang memenuhi untuk bisa melayani proses persalinan. Ketiga, jarak tempuh dan akses jalan Magelang yang lengang dari rumah saya hanya kurang dari 6 kilometer. Keempat, karena saya punya alasan yang sedikit sentimentil untuk memilih Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta. Kelima, dan bagi saya ini satu hal yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan bagi ibu yang akan melahirkan, adalah chemistry dengan lingkungan di Puskesmas Tegalrejo ini lah yang semakin memantapkan hati saya untuk melakukan persalinan disini.

Singkatnya, ada 5 hal yang jadi pertimbangan saya untuk melahirkan di puskesmas Tegalrejo :
  1. Kondisi kandungan dan perjalanan selama kehamilan baik-baik saja, memenuhi kriteria untuk lahiran secara normal
  2. Puskesmas Tegalrejo punya fasilitas kesehatan 24 jam melayani persalinan
  3. Jarak tempuh <6 kilometer
  4. Alasan sentimentil
  5. Chemistry dengan lingkungan puskesmas (bidan, pelayanan, ruangan, dll)

Dari mana chemistry itu didapatkan? Tentunya nggak cuman sehari dua hari untuk bisa mengetahuinya. Saya sudah beberapa kali mengunjungi puskesmas ini, sembari kontrol kehamilan, saya coba berjalan mengelilingi setiap sudut di sana. Melihat dan mencoba berinteraksi dengan petugas medis yang ada di puskesmas. Menyempatkan waktu untuk bercakap-cakap dengan bidan dan perawat, sembari memperhatikan bagaimana atmosfir tempat itu dengan saya. Feeling, ya, kala itu rasanya saya benar-benar menyerahkan perasaan saya, dengan tentu saja tetap melibatkan logika dan nggak waton gobras gabrus.

Pendaftaran persalinan di Puskesmas Tegalrejo

Pendaftaran persalinan di puskesmas dapat dilakukan jauh-jauh hari sebelum HPL tiba. Kalau di Puskesmas Tegalrejo, kita bisa mendaftar untuk persalinan H-2 bulan sebelum HPL. Bu ibu bisa mengisi form pendaftaran secara online melalui tautan berikut ini bit.ly/Dalin_Tejo. Kalau dulu kebetulan saya mendaftar langsung di ruangan petugas persalinan (di lantai 2) karena kala itu bertepatan saya kontrol hamil juga. Setelah mengisi form pendaftaran, petugas di sana menjelaskan dan memberikan secarik kertas yang berisi daftar barang-barang pribadi apa saja yang harus dibawa sendiri oleh pasien ketika ingin melakukan persalinan di puskesmas.

Si Kecil yang memilih kapan Ia ingin lahir ke dunia ini

Kala itu, waktu perkiraan persalinan saya sudah lewat seminggu. Bahkan, di hari yang tadinya diperkirakan saya akan melahirkan, saya masih masuk kerja, hahaha. Masih inget banget waktu di kantor ada teman yang tanya: "Jeng, perutmu udah keliatan gede banget, kapan HPL-nya?".........Saya jawab, "Hari ini", sembari nyengir. Lalu percakapan berakhir dengan hahaha yang awkward. Iya, saya memang pengen ambil cuti mepet, semepet-mepetnya dengan hari persalinan. Tentunya ya biar bisa menikmati waktu bersama si kecil lebih lama sebelum besok harus kembali bekerja. Dan ternyata Allah Yang Maha Kuasa mengabulkan keinginan itu.

Laki-laki atau perempuan; Sabtu atau Minggu; Siang atau malam; dan untuk segala hal yang jawabannya murni kehendak Yang Maha Kuasa, saya tak pernah berani untuk mencoba ngarani ini dan itu.

Selalu memanjatkan doa, agar jabang bayi selalu sehat, lengkap, dan kuat tanpa kurang. Sampai pada akhirnya sudah lewat hampir dua pekan, tentu saja hati ini mulai jadi khawatir. Bapak suami sudah mulai ancang-ancang, tapi apa boleh buat kala itu si bapak masih harus menjalani Ujian Akhir Semester. Si kecil tak kunjung memberikan tanda-tanda kehadirannya. Saya jadi berprasangka, jangan-jangan ini nak mbarep sengaja nungguin bapaknya selesai semua urusan kuliah? Hmm...alhasil selepas sholat Isya, saya ajak dia bicara sambil elus-elus perut besar saya ini. "Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, mau nanti, atau mau besok, ayok kami insyaAllah sudah siap. Bapak sama Ibu juga udah pengen ketemu. Tenang aja, ndak usah nungguin bapak selesai ujian, bapak udah ijin kok. Tapi, ini Ibu nggak bermaksud maksa lho ya. Ibu manut, ikut nak mbarep pengennya lahir kapan".

"Nak, kalau sudah pengen ketemu ibu dan bapak, ayok. Mau sekarang, nanti, atau mau besok, ayok...ibu dan bapak siap..."


Puji Tuhan, lagi-lagi, waktu yang sudah ditetapkan oleh-Nya akan selalu indah pada waktunya. Selepas sholat Isya saya ajak ngobrol jabang bayi kecil ini di dalam perut, selang beberapa jam, tepatnya jam 03:00 dini hari, saya mulai kontraksi. Subhanallah. Nggak pernah tau dengan pasti gimana yang namanya kontraksi sebelumnya. Cuman bisa ngebayangin, mengira-ngira dari cerita ibu-ibu di Youtube, dan lagi-lagi feeling. Ya, beneran semuanya soal feeling dan mendengarkan apa kata hati. Mulai dari kontraksi yang rasanya ceklit-ceklit dengan jeda waktu sejam, setengah jam, sampai dengan akhirnya mulai konstan terjadi tiap 5 menit. Jam 08:00 setelah sarapan bubur, tiba-tiba, saya muntah, hoek keluar semua lah itu bubur ayam Gasibu. Untuk kali pertama selama saya hamil, akhirnya saya ngalamin muntah juga. Feeling saya seketika itu langsung minta bapak suami untuk berangkat ke puskesmas, sekarang juga pak!

Proses persalinan di puskesmas

Setibanya di puskesmas, tentu saja saya langsung dipersilahkan menuju ruang persalinan dan dilakukan pengecekan awal. Ruang persalinan di Puskesmas Tegalrejo seingat saya bisa menampung hingga 2 atau 3 pasien (sebelum pandemi ya). Satu hal penting yang menjadi catatan, ketika saat itu ada lebih dari 1 ibu hamil yang juga butuh ruang persalinan, kita harus berbagi ruangan dengan ibu hamil lainnya 😊 Untuk saya sih itu nggak jadi masalah, tetap ada sekat yang membatasi juga kok, tapi kan kembali lagi, bisa jadi hal ini membuatmu nggak nyaman. Jadi, sewaktu menjalani proses kontraksi menunggu bukaan membesar, di tempat tidur sebelah ada ibu-ibu lain yang juga sedang menunggu bukaan. Selain itu, saya tidak ingat lagi detailnya seperti apa, kala itu pikiran saya cuman fokus konsentrasi buat menahan rasa sakit 😂 Wis ra kober ngopeni liyane, wkwkwkw.

Oiya, di Puskesmas Tegalrejo tidak ada kelas untuk fasilitas bangsal (ruang perawatan) yaa bu ibu. Semua pasien baik itu pasien umum, BPJS, atau jaminan kesehatan lain akan mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sama. 

Ternyata, setibanya di puskesmas, kondisi saya dinyatakan baru bukaan 2. Hmm, masih bukaan kecil ternyata. Untungnya, oleh bidan di Puskesmas saya diminta tetep stay disana, di ruang persalinan. Mungkin karena kala itu saya pasien pertama yang datang apa ya? Mungkin, bisa jadi.

Nah, ini nih proses yang luar biasa rasanya. Menemani si kecil mencari jalan lahirnya sambil terus mengiringi prosesnya dengan sabar dan doa. Di kepala saya saat itu fokusnya hanya satu, saya harus kuat, mbuh piye carane, MPC! Terus menerus mengafirmasi diri dengan hal-hal positif pokoknya.

Bertahan sampai dengan bukaan 8, air ketuban sudah mulai keluar. Ujian mental dan tenaga silih berganti satu per satu. Di satu sisi harus menahan diri gimana caranya biar nggak ngeden, tapi di sisi lain ternyata pun saya nggak bisa kontrol semua itu sepenuhnya. Ada perasaan rasa bersalah yang kala itu merasa tidak mampu menjalankan tugas kecil untuk menahan ngeden saja terus muncul di kepala saya. Pada akhirnya yang bisa dilakukan ya pasrah terus berdoa, merelakan sepenuhnya pada Allah SWT.



....saya lanjutkan di postingan berikutnya ya,
udah berasa kepanjangan ini soalnya, hehe.
Monggo, silahkan lanjut ke sini.

8 November 2019


Pengalaman menyenangkan ke puskesmas ini sebetulnya sudah dimulai sejak usia kandungan saya masuk 7 bulan. Sebelumnya, saya rutin kontrol di RS Hermina dengan dr. Detty, waktu itu alasannya lebih karena pengennya sih jadwal kontrol tidak barengan dengan aktifitas bekerja, jadi pengen ambil jadwal kontrol dokter di malam hari setelah jam kerja selesai. Alhamdulillah di saat trisemester pertama dan kedua, saya tidak mengalami hal-hal yang sampai mengganggu aktifitas sehari-hari. Nggak mual yang berlebihan, nggak ngidam yang gimana-gimana, nggak ngedrop juga, cuman memang jadi lebih sering nguantuuukk dan lebih gampang capek aja 😆

Nah, dulu sewaktu sahabat saya hamil, saya sudah beberapa kali mendengar cerita positif darinya yang langganan kontrol kehamilan di Puskesmas Mantrijeron. Mama Dian Utari berbagi cerita tentang layanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) di puskesmas saat ini sudah lengkap dan pelayanannya sudah jauh lebih nyaman. Mulai dari USG, cek laboratorium (termasuk cek HIV juga ada), dan kesempatan untuk konsultasi dengan Ahli Gizi maupun Psikolog. Makin mantep lah saya kala itu buat besok kalau pas hamil nyobain untuk kontrol kehamilan di puskesmas. Sebelumnya memang udah ada kepengenan nyoba keseruannya, ditambah lagi terinfluence sama Mamanya Bang Sabrang & Dedek Kenang, makin semangat lah saya buat kontrol di puskesmas. Dan akhirnya, timing buat nyobain pun tiba, hihi.



"Kenapa akhirnya memilih rutin kontrol di puskesmas?"



Alasan utama karena pengen terinfluence untuk lahiran normal 😋 selain itu, nggak memungkinkan lagi untuk kontrol di RS Hermina karena jauh dan makin kesini kalau pulang kerja saya lebih milih buat leyeh-leyeh aja di rumah, udah makin boyoken cuy, hahaha. Alhamdulillah juga kehamilan saya baik-baik saja selama kontrol. Mmm, kalau alasan sentimentilnya karena dulu waktu saya bayi, saya rutin diimunisasi dan kontrol disana juga oleh Ibug, hahaha njug ngopo yak? 😂 Selebihnya karena penasaran juga sih, pengen aja gitu ngerasain ambience gimana periksa di puskesmas yang dibilang saat ini sudah banyak sekali improvement-nya, dan ternyata memang benar adanya. Ditambah lagi, Puskesmas Tegalrejo juga sudah punya fasilitas kesehatan yang cukup lengkap, termasuk layanan 24 jam dan ambulance. Fakta lain yang makin bikin penasaran adalah ini :


"Di Kota Yogyakarta sudah ada dua puskesmas yang memperoleh akreditasi terbaik atau berstatus sebagai puskesmas paripurna yaitu Puskesmas Mantrijeron dan Puskesmas Tegalrejo." - Antara Yogya, 2018



Cerita kontrol kehamilan ini saya persingkat aja ndak papa yah, ini beberapa highlight pengalaman dan catatan kecil yang mungkin bermanfaat saat kontrol kehamilan di Puskesmas Tegalrejo Yogyakarta :

Pendaftaran Antrian Online Puskesmas

Di Puskesmas Tegalrejo kita bisa melakukan pendaftaran antrian H-1 sebelum jadwal periksa. Kalau jadwal periksamu pengen di hari Senin, lakukan pendaftaran di hari Sabtu. Pendaftarannya bisa dilakukan via WA yaa. Tapi kalau sebelumnya kalian belum pernah sama sekali terdaftar periksa di puskesmas ini, alias belum punya nomor RM (Rekam Medis), kalian tetep harus ikuti rule jalur reguler (ambil nomor antrian di tempat, lalu melanjutkan proses menunggu antrian, dan itu memang lebih menyita waktu). Jadwal pendaftaran online ini mulainya dari jam 08:00. Dulu saya pernah kena tegur Admin karena ngeWA pagi-pagi jam 05:30 😂

Nah, kalau sudah dapat balasan WA dari si Mimin Puskesmas Tegalrejo, pas hari H kontrol, tinggal ngikutin step berikut :
  1. Begitu tiba di puskesmas, serahkan identitas diri (KTP/SIM) dan kartu asuransi (jika menggunakan asuransi) ke petugas yang ada di Loket 2. Loket ini khusus melayani pasien yang sudah mendaftar melalui jalur online. Setelah itu, tunggu panggilan oleh petugas yang akan menyerahkan printout nomor antrian sebagai bukti bahwa kita pada hari tersebut sudah masuk ke antrian pasien kontrol.
  2. Kalau kalian pengguna BPJS, setelah menerima printout tadi, isi blanko presensi penggunaan fasilitas BPJS yang ada di depan dekat satpam. Blanko warna kuning untuk BPJS Mandiri dan blanko warna pink untuk BPJS PPU (Pekerja Penerima Upah, BPJS didaftarkan oleh tempat bekerja).
  3. Selesai mengisi presensi, duduk manis dan tunggu di dekat Poli KIA, sampai namamu dipanggil oleh petugas. Kalau sekiranya kalian sudah menunggu terlalu lama, jangan ragu untuk konfirmasi ke petugas yang jaga Poli KIA ya, siapa tau kalian nggak denger panggilan dan terlewat.
  4. Kalau sudah dipanggil oleh petugas Poli KIA, kita akan dicek berat badan, lingkar lengan, dan tensi. Jangan lupa untuk sampaikan keluhan yang dirasakan kalau ada.
  5. Setelah selesai pengecekan awal, duduk manis lagi untuk menunggu dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan Poli KIA untuk bertemu dengan bidan atau dokter.
  6. Yang terakhir, sabar, kalau bosan bisa sambil jajan cemilan roti yang dijual sama ibu-ibu keliling 😁

Wajib ANC Terpadu

Sewaktu pertama kali mendaftar di puskesmas ini, sebagai pasien baru ibu hamil, kita diwajibkan untuk mengikuti ANC Terpadu (Ante Natal Care Terpadu). Proses ini dilakukan untuk perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan kalau amit-amit terjadi penyulit/komplikasi. Prosedurnya adalah ibu yang sedang hamil harus melalui pemeriksaan gigi, cek darah & urin (bagian ini ada banyak hal penting yang diinfokan oleh Ibu Bidan, termasuk Hb, Rhesus, dll) kita juga akan dapat penjelasan hal-hal penting dari kondisi kesehatan badan ibu hamil, konsultasi dengan ahli gizi dan psikolog.

Good Hospitality

Semua bidan maupun petugas medis yang saya temui di Puskesmas Tegalrejo ramah-ramah dan murah senyum. Ibu Bidan juga sabar dan berasa sangat legowo untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pasien, nggak ada rasa ogah-ogahan gitu. Beberapa juga perhatian dan informatif. Untuk standar proses pemeriksaannya nggak pake USG yaa buibuu. Jadi, kalau di puskesmas Ibu Bidan akan mengecek kandungan kita manual pake tangan. Perut bumil kayak dipencet-pencet gitu untuk mencari posisi bayi dan mengukur tinggi fundus. Nah, tinggi fundus ini yang digunakan untuk mengontrol pertumbuhan bayi di dalam kandungan.


"Tapi saya nggak mantep buk kalau periksa nggak pake USG, gimana dong?"



Pengalaman USG di Puskesmas

Kalau kalian pengen periksa pakai USG, di Puskesmas Tegalrejo juga bisa kok, tapi memang harus request dulu sama Ibu Bidan karena alat USG disana nggak banyak, kayaknya juga malah cuman ada 1 apa ya di ruang tindakan lantai 2, dan lagi karena memang pemeriksaan menggunakan USG bukan termasuk ke tahap pemeriksaan standar ya, terkecuali memang ada kondisi khusus.

Biaya untuk USG jika berdasarkan request pasien, terhitung murah banget, cuman Rp 40,000 udah gitu saat proses USG berlangsung, dokternya njelasin detil banget hal-hal penting yang terkait dengan janin. Karena cukup detil itu tadi, jadinya proses USG-nya bisa lama, nggak cuman semenit dua menit, terus udah. Jadinya kita bisa "ketemu" sama jabang bayi agak lama, hihihi. Pengalaman saya dibanding dengan ketika USG di RS Hermina maupun JIH, jauh lebih informatif di puskesmas. Tanpa kita cerewet tanya ini itu, dokter sudah inisiatif menjelaskan 😅 Untuk alat USG-nya sendiri juga udah ok kok, gambar di layar monitor terlihat dengan cukup jelas, nggak banyak bruwetnya. Ah iya, dibanding sama alat yang di RS Sadewa menurut saya kok lebih ok yang di puskesmas malahan, atau mungkin kala itu saya lagi nggak hoki aja dapet alat yang bruwet? 😄

Awkaaay, begitu deh singkat cerita pengalaman saya selama kontrol kehamilan di Puskesmas Tegalrejo Jogja. Next, mungkin saya akan share pengalaman persalinan di sini (Aamin, semoga bisa lahiran normal lancar sehat). Fasilitas yang saya dapatkan ini sangat bisa jadi berbeda dengan fasilitas di puskesmas lain ya. Overall, sejauh ini Alhamdulillah nggak ada hal yang mengecewakan dan bikin saya kapok periksa di sini. Mungkin besok si kecil juga bakal lanjut imunisasi di sini seperti Ibuknya dulu, hihihi 😊



***

Update Kontrol Kehamilan Saat Pandemi COVID-19

Tulisan ini saya update kembali pada tanggal 29 Juli 2021. Jadi, selama pandemi COVID-19 ini, tentunya ada perubahan besar pada pelayanan kesehatan di Puskesmas Tegalrejo. Sebenernya sih, nggak hanya di puskesmas ini saja, tapi sebagian besar puskesmas di Jogja ada beberapa perubahan. Apa saja perubahan layanan yang ada di Puskesmas Tegalrejo selama pandemi COVID-19? Secara singkat saya share di sini yaa bu ibu semua:

puskesmas-tegalrejo-jogja

1. Tidak ada layanan USG

Sharing dari perawat yang ada di Puskesmas Tegalrejo, kondisi pandemi di Jogja ini makin kesini benar-benar makin terasa menguras energi. Oleh karena itu, petugas kesehatan lebih diprioritaskan untuk melayani yang benar-benar krusial dan membutuhkan. Layanan USG untuk saat pandemi ini ditutup sementara hingga batas waktu yang belum bisa ditentukan. *IMHO, USG hanya diperuntukkan bagi ibu hamil yang kondisinya benar-benar membutuhkan cek fisik menggunakan USG. Jadi, kalau ingin periksa kehamilan menggunakan USG, bu ibu bisa datang ke rumah sakit umum atau klinik swasta lainnya.

2. Lebih mengutamakan pasien yang berdomisili Kota Yogyakarta

Saya ini berdomisili di Sleman, jadi ya KTP-nya di Sleman. Namun, karena saat ini masih ngontrak di daerah Jl. Magelang, alhasil saya memilih faskes pertama saya yang paling dekat, di Puskesmas Tegalrejo (terlepas memang aslinya sudah berasa nyaman aja gitu di puskesmas ini, hehe). Sewaktu kemarin akhirnya kembali kontrol lagi di Puskesmas Tegalrejo, perawat yang ada di KIA saat itu menginformasikan dan meminta maaf bahwa mulai saat pandemi ini, mereka memprioritaskan untuk pelayanan bagi warga yang berdomisili di Kota Yogyakarta (Puskesmas Tegalrejo itu kan masuknya ke area Kota Yogyakarta). Supaya juga, nantinya ketika butuh rujukan atau vaksinasi bisa lebih mudah dan cepat prosesnya.

Saya sangat paham, meskipun agak kecewa, yah jadi nggak bisa lahiran disini lagi deh besok, hehe, tapi nggak papa, it's not a big deal for me. Emang gitu sih ya, kalau udah dibikin nyaman, susah menggoknya, hahaha. Kemarin ibu perawat juga jadinya minta maaf kalau nggak bisa lagi melayani seperti dulu, ya gimana lagi, karena pandemi gini kan. Segera saya pindah faskes ke Puskesmas Mlati 2, besok kapan-kapan saya share juga deh bagaimana pengalaman kontrol kehamilan disana ya.


Instagram

Diary Baik Hari Ini. Theme by STS.